Rabu, 08 Juli 2015

Teori Tentang Tuhan dan Ilmu Pengetahuan

Real/Nyata menurut Science

Definisi “Real” atau nyata menurut science adalah materi dan energi. Alam ini real, karena alam berisikan materi dan energi. Einstein mengguncang dunia dengan menemukan bahwa materi dan energi dapat dipertukarkan.. Dari Materi pun bisa berubah menjadi energi, demikian sebaliknya, dari energi bisa terbentuk materi. Jumlah energi pun kekal adanya. Setetes air (materi) bisa diurai menjadi energi dengan memecah partike-partikel penyusunnya. Proses pemacahan ini akan melepaskan sejumlah energi yang sangat besar.

Proses pembentukan alam semesta adalah contoh bagus dalam memberi contoh perubahan energi yang sangat besar menjadi materi benda-benda langit yang kita lihat sekarang. E=mc2, merumuskan Energi yang dapat berubah menjadi materi bila suatu obyek dipacu mendekati kecepatan cahaya. Energi akan mengalami transformasi ke massa obyek tersebut.

Science berabad-abad lamanya menggeluti realita ini, mempelajari seluk-beluk materi dan energi, dengan hasil sangat gemilang. Tanpa begitu listrik dan computer yang anda gunakan untuk membaca tulisan saya, tidak akan tercipta begitu saja.

Inilah definisi “REALITY” menurut science. Alam semesta ini merupakan sebuah benda padat yang penuh dengan materi dan energi. Tidak ada “vacuum”.

We Live in a Perfect Nature

 Ada 20 konstanta fundamental alam ini. 20 Konstanta tersebut sangat sensitif, dan seluruh penghuni alam semesta ini sangat menggantungkan eksistensinya terhadap nilai konstanta yang tetap tidak berubah sepanjang masa. Karena sedikit saja salah satu konstanta itu berubah maka seluruh alam akan hancur.

Di dalam Fisika, ditemukan bahwa terdapat 20 konstanta fundamental alam semesta yang merupakan suatu ketentuan baku. Termasuk konstanta electromagnetic, gravitasi, dll. Nilai masing-masing konstanta tidak bisa atau tidak boleh berubah. Sebuah simulasi komputer menunjukkan bahwa bila satu konstanta berubah sedikit saja, maka alam semesta ini akan hancur dan tidak mungkin ada. Begitu rumitnya dan sempurnanya alam semesta ini, membuat saya berpikir bahwa alam semesta ini unique dan penciptaanya adalah sesuatu yang dikehendaki. Bukan kebetulan belaka.



20 fundamental constants of nature (from NOVA)

Sejak Big Bang, laju berkembangnya alam semesta ini yang disebut dengan laju kritis, bila lambat sedikit saja atau lebih cepat sedikit saja, maka alam semesta kita sudah hancur jauh sebelum mencapai kondisi sekarang ini. Hal ini disebabkan jumlah Dark Matter dan Dark Energy yang bertanggung-jawab atas laju kritis berkembangnya alam semesta, adalah tepat, tidak kurang tidak lebih.

We are not a result of a random equation

Sebelum alam semesta ini terbentuk, sebelum moment penciptaan, alam semesta kita bukanlah hasil dari kebetulan yang disebabkan ledakan besar dari sebuah kondisi yang disebut pre-quantum-state. Jika moment of creation adalah Big Bang, maka hanya ada satu alam yang terbentuk darinya, yaitu alam semesta kita. Sebagian orang memegang ide bahwa alam semesta kita adalah satu dari tak-hingga jumlah alam semesta kemungkinan yang terjadi akibat Big Bang. Jika benar demikian, kehidupan kita ini hanyalah sebuah kebetulan belaka. Tapi sungguh terlalu sempurna untuk dikatakan hanya sebuah kebetulan.

Kita hidup di alam semesta yang sempurna. Jumlah Dark Matter dan Dark Energy yang tepat, serta 20 konstanta alam yang tetap/konstan, sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa alam semesta kita ada dengan suatu alasan tertentu. Bukan suatu kebetulan. Alam ini diciptakan oleh Sebuah Entity yang Maha Kuasa dengan tujuan tertentu.

The Stage Was Set

So the stage was set. Seperti sebuah panggung atau setting film. Sang sutradara mengatur sedemikian rupa; design, konstruksi, bahan material, hingga warna, hiasan, dan lain sebagainya dengan ketepatan formula dan kesempurnaan perhitungan yang hakiki. Bergeser sedikit saja dari perhitungan itu, maka panggung akan hancur. Panggung itu adalah alam semesta ini. Alam semesta ini sungguh sempurna dengan mengikuti aturan-aturan baku yang tidak berubah. Hukum alam, kerumitan fisika yang tidak mungkin ada karena kebetulan belaka. Obyek-obyek di dalamnya eksis dengan harmonis dan seimbang. Semua saling membutuhkan satu sama lain, baik dalam skala micro maupun macro.

Saya rasa saya tidak perlu berpanjang lebar memaparkan betapa sempurnanya alam semesta ini, karena kesempurnaan tersebut adalah sebuah bahasan tanpa batas.

Apakah ada alam semesta lain yang mirip dengan alam semesta kita? Apakah predikat 'sempurna' yang kita sematkan untuk alam ini semata-mata karena kita tidak punya pembanding yang lebih baik? Bagaimana dengan braneworlds? Apakah semua semesta paralel hanyalah kebetulan belaka atau hanyalah pelengkap? Apakah teori itu salah seluruhnya? Ikan yang hidup di dalam air mungkin menganggap alam air adalah sempurna. Dan manusia menganggap alam semesta ini sempurna. Apa bedanya kita dengan ikan itu?

Ada atau tidak semesta paralel, yang menjadi inti dari pembahasan ini adalah bahwa alam semesta ini tidak mungkin ada karena kebetulan. Dan bila tidak kebetulan, berarti ada tujuan dari penciptaan alam ini.

Penjabaran Peluruhan (Reductionism)

 Science juga punya metode khusus dalam menerangkan mekanisme alam ini. Sebuah analogi yang bagus; jika ada pertanyaan, mengapa sebuah mobil bisa membawa anda ke tujuan tertentu, missal dari Jakarta ke Surabaya. Untuk menjawab pertanyaan ini, science akan mulai mempreteli mobil, menemukan bahwa mesinlah yg menjadi sumber energi penggerak, kemudian mesin pun dirombak untuk melihat keping demi keping terkecil yang menyusunnya sampai disimpulkan bagaimana mobil bisa bergerak, berapa jumlah bahan bakar yang dibutuhkan, waktu tempuh, dan lain sebagainya. Namun dari situ manusia tidak mungkin menemukan jawaban ‘mengapa’ mobil itu bergerak?

Untuk mengerti mekanisme alam semesta ini, manusia mempelajari materi hingga dalam lingkup yang paling kecil, atom dan partikel, karena manusia yakin dengan mengerti mekanisme di tingkat yang paling kecil, maka manusia akan mengerti mekanisme alam ini pada ukuran berapa pun, dimana pun. Hingga kini metode ini sanggup membawa manusia ke tapal batas pengetahuan, string dan M-theory yang demikian rumit dan memukau. Namun inilah tapal batas. Dengannya manusia masih belum mampu menjawab ‘mengapa’ alam semesta ini tercipta?

Science berada di tepi jurang. Di seberang sana hanyalah kegelapan, tidak bisa dideteksi oleh perangkat apa pun. Science menggunakan partikel materi untuk mendeteksi apa pun yang menjadi obyek observasinya. Bagaimana dengan obyek yang tidak bisa dideteksi oleh partikel materi apa pun? Science berkata, maka obyek itu tidak ada atau tidak REAL.


 So, What’s Next?


Science mencoba bergerak maju. Selangkah demi selangkah, mencoba mencari celah yang bisa dilalui. Celah itu semakin sempit. Sempit karena science sudah kehabisan cara untuk maju. Science harus melakukan revolusi untuk bisa melihat himpitan dan jalan di depannya. Harus ada cara menerangi jalan di depan sehingga science bisa melakukan observasi dan menarik kesimpulan. Science berada di antara dunia nyata dan tidak nyata. Antara science dan philosophy. Antara fisik dan metafisk.

Satu bidang science, yaitu Noetic Science, yang dibangun oleh Edgar Mitchell (mantan astronaut, Apollo 14), adalah salah satu bidang science yang mencoba membawa science ke tempat yang belum pernah dijamah. Noetic melihat bahwa kemampuan manusia tidaklah hanya sebatas peralatan yang diciptakannya untuk mempelajasi alam ini, lebih jauh, untuk menolong dirinya sendiri agar menjadi manusia yang lebih baik. Selama ini manusia hanya memanfaatkan kemampuan otaknya sedikit saja. Tentunya ada metode atau cara yang dapat menaikkan kemampuan otak manusia. Apa yang terjadi bila kita mampu memanfaatkan 100% kapasitas otak kita? Noetic adalah science yang berani terjun untuk menyelidiki alam pikiran, alam bawah sadar, psychokinetic, Kematian, science and wisdom, meditasi, dan lain seterusnya.

Mungkin manusia telah berjalan ke arah yang keliru. The biggest mystery is not the universe, but human itself.

Manusia mempunyai potensi yang 80% -nya masih menjadi bahan penilitian di Noetic Institute. Saat ini kita tidak tau apa saja manifestasi dari 80% potensi kita itu. Kemudian ada sebuah pertanyaan, ‘apakah ini pemikiran baru? Ataukan sudah pernah dibicarakan sebelumnya?’

Ilmuwan noetic membuka diri untuk mempelajari catatan-catatan sejarah yang mungkin pernah menyinggung tentang rahasia alam yang terbesar ini, manusia.
Dan ternyata literature-literature itu sangat banyak. Sejak awal, sejak zaman manusia mampu menuliskan idenya, manusia sudah mulai berpikir tentang potensi yang tersimpan di dalam jasad kita ini, hubungan antara manusia dengan alam., reality dengan non-reality, Fisik dan mistik. Manusia dan Tuhan. Sebagian kitab-kitab itu masih ada hingga sekarang dalam bentuk kitab suci agama-agama di seluruh dunia (Taurat, Injil, Al-Quran, Veda, dll)

Manusia pada zaman itu sudah berbicara mengenai pencipataan alam semesta, penciptaan manusia, baik-buruk, dan lain sebagainya. Apakah mungkin jawaban misteri yang dihadapi science sekarang ini hanyalah berupa perulangan bahsan topic uang pernah dibicarakan nenek-moyang kita terdahulu? Memang bedanya, dulu mereka tidak menggunakan teknologi untuk menguji hipotesa, mereka hanya menggunakan logika dan akal, filsafat. Tapi di masa science yang berada di tepi jurang ini, tidak ada cara lain untuk melihat dalam kegelapan selain mencoba melihat kembali ke dalam kitab-kitab itu. Mencoba mendalami potensi manusia. Manusia dengan alam, manusia dengan Tuhan.

Polarity

Tuhan yang Maha Satu, hanya ada Dia sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Dia tidak memerlukan ruang, tidak juga waktu. Tidak ada yang lainnya selain Zat Yang Satu itu. Kemudian Tuhan berhendak menciptakan alam. Pertama kali Ia menciptakan cahaya. Adalah suatu keputusan dari Tuhan untuk menciptakan cahaya sebagai awal proses penciptaan. Cahaya membawa konsekwensi, yaitu polarity. Ini adalah sifat dasar cahaya yang darimana alam semesta ini diciptakan. Polarity adalah pengkutuban, dualisme, dua sifat yang saling bertentangan namun saling menyeimbangi satu sama lain. Hindu menyebutnya Karma, ajaran di China menyebutnya Yin-Yang. Oleh karenanya di alam ini kita amati terdapat polarity di mana-mana. Kanan-kiri, negative-positive, baik-buruk, kaya-miskin, semua berpasangan dan saling meniadakan/menyeimbangkan.

Bila di alam ini terdapat polarity, maka sebelum terciptanya, tidak ada polarity. Inilah arti ESA yang sesungguhnya. Hanya ada Tuhan. Tidak ada yang lain. Tuhan adalah singular, bukan polar. Tidak ada kanan-kiri, tidak ada negative-positive, tidak ada baik-buruk. Tidak ada surga-neraka.

Dari cahaya tersebut terciptakan alam yang penuh dengan planet, termasuk manusia. Kita berasal dari Zat-Nya. Manusia adalah manifestasi dari Tuhan.

Kita kemudian memanggil alam ini sebagai alam yang REAL. Inilah REALITY menurut science. Namun bila ini adalah alam Real, apakah anda mengatakan bahwa Tuhan tidak Real? Di dalam Alquran, alam ini diebut ‘fana’ yang artinya ‘sementara’. Yang kalau saya mengartikannya sebagai alam semu, atau tidak REAL. Alam ini bukan REALITY yang hakiki. Jadi, apakah pemahaman kita ini terbalik? Sesungguhnya yang REAL adalah Tuhan, sedangkan alam ini, Tidak Real. Real hanyalah yang Singular. Polar bukanlah Real.

Pemahaman reality yang seperti inilah yang banyak di singgung di kitab-kitab suci. Ke-fana-an dunia yang disalah-artikan sebagai real telah mengecohkan manusia dalam memandang ajaran-ajaran itu sebagai mistic, metafisik, spiritual, dan segala bentuk yang tidak bisa dianalisa oleh perangkat science.

Namun dengan pemahaman yang sebenarnya, bahwa alam inilah yang tidak real, maka sesungguhnya science hanya mengamati sebuah ciptaan, tanpa bisa mengerti sang Pencipta. Dengan kata lain, apabila science ingin mempelajari kebenaran yang hakiki, maka ia harus memperkaya pemahamannya terhadap alam ini yang tidak hanya bisa dipelajari oleh partikel-partikel materi, namun juga dari sesuatu yang lain, sesuatu yang selama ini dianggap metafisik, mistis, dan spiritual.

Kemana science harus mencari?
Bila manusia diciptakan dari zat-Nya, maka pertanyaan itu sangat tepat bila dibalikkan ke diri manusia sendiri. Manusia adalah manifestasi dari Tuhan. Dan sudah menjadi sifat dasar, atau dorongan naluri manusia untuk mencari Tuhan di balik jasad ini, meng-explore seluruh kemampuan ‘mind’ dan bentuk dasar kesadaran.

Albert Einstein pernah berkata, “di masa depan, akan ada agama baru yang berupa cosmic religion”. Satu agama yang benar-benar mengerti reality yang sesungguhnya dan melihat manusia sebagai manifestasi dari Tuhan. Tubuh kita adalah sebuah kuil, sebuah kuil, rumah bagi Tuhan yang tinggal di dalamnya. Carilah Tuhan di dalam dirimu.

The God Theory


Saya rasa manusia sudah cukup berani untuk mengungkapkan teori-teori fisika mereka tanpa harus dirudung rasa takut dibakar hidup-hidup seperti beberapa abad yang lalu. Dengan kedewasaan berpikir ini, maka ilmuwan fisika teoretis serta para cosmologist sudah berani mengajukan teorinya kepada dunia, seperti braneworlds, zero-brain, cyclic universe, dll. Teori-toeri ini tentunya semakin sulit untuk dibuktikan atau bahkan mungkin tidak akan bisa dibuktikan sama sekali. Yang mampu ditawarkan hanyalah ‘apakah anda percaya atau tidak’. Dan satu-satunya cara untuk mengujinya adalah dengan pendekatan logika.

Alam yang sangat sempurna ini hanya mungkin ada bila ada yang menciptakannya. Sebentuk Entity yang Maha Cerdas dan Kuasa. Ia adalah Potensi Yang Maha Tak Berhingga. Lalu untuk apa Sang Entitiy dengan Potensi Yang Yak Berhingga menciptakan alam ini? Jawabanya mungkin adalah untuk merubah potensi menjadi pengalaman (To turn potential into experience).

Coba bayangkan anda seorang programmer yang sangat pintar, anda mampu membuat game simulasi komputer. Anda adalah potensi. Lalu apa yang akan anda lakukan dengan potensi anda itu setelah membuat game tersebut? Secara logis anda akan memainkannya. Anda akan menjadi karakter di dalam game anda dan mengalami sendiri bermain dalam game simulasi yang anda buat itu!

Bagaimana mencari tau apakah ide ini benar? Saya tawarkan kepada pembaca untuk mencari bukti-bukti di literatur agama masing-masing apakah pernah tertulis sebuah kalimat yang menyatakan kebenaran ide ini. Baik itu berupa kiasan sekalipun. Kali ini Fisika mungkin tidak dapat membuktikannya. Saya merasa inilah batas akhir ilmu pengetahuan yang ada di alam ini. Kita perlu perangkat baru yang bisa menjamah realm di luar alam ini. Graviton mungkin mampu membuktikan adanya dimensi extra yang di-teorikan M-Theory, namun graviton tidak bisa membawa manusia kepada zero-brane maupun juga partikel tanpa property.

Ini adalah sebuah ide atau pemikiran yang sangat menarik dan mungkin termasuk baru. Jika benar bahwa Tuhan menciptakan alam ini agar "Ia" bisa ber-experience melalui manusia -- tujuan manusia di alam ini adalah untuk ber-experience, maka pertanyaan selanjutnya adalah 'Apa sajakah experience yang diinginkan-Nya untuk kita jalani?'.

Zero-Point Field

Fisika telah sering menyinggung bahwa tidak ada ruang yang bisa benar-benar dalam keadaan kosong atau vacuum. Setiap titik ruang ini terpenuhi oleh quantum fluctuation. Partikel yang muncul dan saling meniadakan tanpa henti di setiap titik ruang di alam semesta. Apa sebenarnya ini? Dari mana mereka berasal? Mungkinkah partikel muncul dari ketiadaan seperti itu? Nyatanya memang demikian.

Fisika berteori bahwa partikel-partikel itu adalah partikel zero atau Zero-Point Particle, tak bermasa, dan tersebar merata bagai sebuah grid atau matrix alam semesta, Zero-Point Field (ZPF).

Bernard Haisch menjelaskan bahwa ZPF inilah yang menjadi alasan sebenarnya mengapa materi memiliki massa.

Sedikit membahas tentang massa. Massa adalah sebuah teka-teki di dalam ilmu Fisika. Sampai kini kita tidak tau dari mana massa itu berasal? Apakah massa suatu atom adalah sama dengan banyaknya jumlah electron? Kalau begitu dari mana massa electron itu sendiri?

Ilmuwan kemudian menerima sebuah theory bahwa massa diwakili oleh sebuah partikel yang dinamakan partikel Higgs. Jadi, massa suatu partikel ditentukan dari seberapa banyak jumlah partikel Higgs yang menyelimuti partikel itu. Anda bisa bayangkan sebuah partikel yang diselimuti kabut Higss. Kalau demikian, bagaimana dengan massa dari partikel Higgs itu sendiri?

Massa yang diwakili oleh partikel Higgs ini (walaupaun terdengar sangat aneh) sedang dibuktikan keberadaannya di laboratorium milik CERN, Large Hadron Collider (LHC), dengan menumbukkan dua buah partikel materi yang dari ledakan yang terjadi diharapkan adanya serpihan partikel Higgs.

Ilmuwan lain mengemukakan teori bahwa massa sebenarnya adalah sebuah efek yang dihasilkan dari ikatan partikel materi terhadap ZPF. Sehingga massa suatu partikel ditentukan dari ikatan yang terjadi antara partikel itu dengan Zero-Point Field. Theory ini sangat konsisten dengan String/M-Theory. Bahwa setiap partikel adalah sebuah string yang bergetar. Tidak hanya bergetar, ia juga harus tertambat (kedua-ujungnya) pada sebuah membrane yang membentuk rupa dan dimensi alam semesta ini. Membrane ini adalah ZPF.

Kondisi ini juga cocok untuk menjelaskan mengapa partikel Graviton ber-massa NOL. Graviton adalah partikel pembawa efek gravitasi yang berupa string tertutup (Closed-loop string). Kedua ujung string graviton saling bertautan sehingga ia tidak memiliki ujung untuk bisa tertambat ke membrane/ZPF. Tidak adanya ikatan ke ZPF - maka graviton tidak memiliki massa.

Dengan demikian pula, maka sama halnya dengan partikel cahaya, yaitu photon. Photon ber-massa NOL. Sangat mungkin sekali bahwa photon juga termasuk partikel dengan string tertutup dan tidak memiliki ikatan dengan ZPF.


God is SINGULAR, And So are We


Apa tujuan kita di dunia ini? Apa tujuan Tuhan menciptakan manusia?
Mungkin pertanyaan itu baru bisa dijawab bila kita menggali lebih dalam potensi Tuhan di dalam diri kita.

Dari yang singular terciptakan polarity yang kemudian menjadi mahluk yang tak hingga jumlahnya di dalam sebuah alam. Bayangkan tubuh kita yang satu ini terdiri dari jutaan bahkan milyaran jumlah sel. Setiap sel punya perilaku, tugas masing-masing. Namun seluruh sel itu secara bersamaan mempunyai satu tujuan yang sama yaitu untuk membuat tubuh ini hidup.

Noetic science mempunyai pendapat bahwa 'jiwa' dan 'pikiran' adalah entity yang terhitung. Dapat di analisa dan dipelajari. 'the mind' yang dihasilkan dari tubuh kita ini adalah berupa partikel yang memiliki massa. Memiliki massa berarti terdapat ikatan antara 'mind' kita dengan Zero-Point Field (ZPF).

Seperti yang disinggung di atas, bahwa ZPF adalah sebuah field yang mengisi penuh alam semesta ini. Sebuah kesatuan. Sebuah membrane. Dengan adanya ikatan antara 'mind' setiap individu manusia dengan ZPF, maka ini berarti setiap manusia saling berhubungan. Selain itu, human mind juga memiliki hubungan dengan partikel lain. 'Human Mind' bisa mempengaruhi kondisi setiap partikel di alam ini.


Mohon dibaca baik-baik tulisan ini.


Kenyataan di atas menjelaskan banyak hal. Inilah bagaimana suasana hati seseorang bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Hasil percobaan laboratorium terhadap air membuktikan bahwa dengan memberikan pikiran 'senang', air membentuk kristal dalam bentuk khusus ketika ia dibekukan. Lain pula bentuk kristal air yang terbentuk ketika ia diberikan pikiran negative, seperti marah, benci, dll.

Inilah juga mengapa terdapat jenis pengobatan alternatif di bumi ini, seorang mampu mengobati orang yang sakit hanya dengan sentuhan tangan, atau bahkan dari jarak jauh.
Pikiran manusia dapat mempengaruhi materi. Merubah materi. Banyak peristiwa di kitab suci yang menceritakan bagaiman seorang nabi mampu berbuat mukjizat. Mukjizat adalah sebuah kata kiasan. Mukjizat adalah manifestasi dari potensi Tuhan di dalam diri manusia, yang membuat manusia memiliki 'God-Like power'.

Kemudian, oleh karena setiap pikiran manusia berhubungan satu sama lain, apa yang terjadi bila kumpulan manusia melakukan konsentrasi memikirkan satu hal yang sama? Bagaimana bila seluruh manusia di bumi melakukannya?

Ini juga menjelaskan science dibalik 'The Law Of Attraction" dalam buku 'The Secret' oleh Rhonda Byrne. Keinginan kuat dapat mempengaruhi hasil yang didapat. Suatu niat yang kuat dapat menarik perilaku alam ini untuk mewujudkan niat itu.
Allah berfirman, "Tidak akan berubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak merubahnya sendiri".

Anda pasti sering mendengar perkataan, "Manusia merencanakan, Tuhan menentukan". Satement ini sangat bertentangan dengan firman Tuhan di atas. Sangat jelas bahwa manusia mampu merubah kondisinya, bahkan merubah materi disekelilingnya. Tuhan telah menyebutkannya di dalam kitab suci. Manusia mencoba mengartikannya, namun entah bagaimana sepertinya selalu keliru.

Manusia adalah sel kehidupan dari Zat Yang Maha Besar. Manusia adalah satu system. We are united. We are One as Singular, Singular as God-self.

Ketika engkau berdoa dengan khusyuk, anda menemukan Tuhan di dalam dirimu. Engkaulah sang Pencipta. Engkaulah Brahma. Engkaulah Tuhan, dan Tuhan selalu tau yang terbaik. When you embark as being God, nothing else in nature is relevant, becasue there is no polarity, only Singular. You are God.

Bacalah. Bacalah kitabmu dalam artinya yang sebenarnya. Singkirkan bungkusnya, jangan terkecohkan dengan kiasan atau perlambangan di dalamnya. Hanya mereka yang benar-benar mau berpikir, terbuka dan bebas dari segala doktrin dan dogma yang bisa menemukannya.


This is not Sufism, this is not Kabalism, not Hinduism, this is science. An ancient science being rediscovered.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar