Selasa, 07 Juli 2015

Cosmic Religion

Cosmic Religion


Satu Kebenaran yang Hakiki

Untuk para Pemikir.
Tidak perlu saya ungkapkan betapa sulitnya menuliskan apa yang ada di dalam benak saya. Perlu waktu lama berpikir hanya untuk memilih kata-kata yang tepat. Beberapa tulisan harus saya batalkan dan mengharuskan saya menulis lagi dari awal. Saya harap apa yang saya publish terakhir ini cukup baik untuk dibaca. Dan semoga bukan menjadi tulisan saya yang terakhir.

Yang menjadikannya sulit adalah karena topik ini memiliki latar belakang yang sangat luas. Terasa sangat tidak mungkin menyinggung semua wacana yang melatar-belakangi tulisan ini. Kecuali saya berencana menulis buku yang paling tidak setebal 1000 halaman.


Alasan saya memilih topik ini adalah karena semakin jauh saya berpikir dan mempelajari segala hal mengenai alam dan kehidupan, kesimpulan yang saya dapati sangat mencengangkan dan merubah cara berpikir saya. Tulisan ini bukan sebuah ajaran atau doktrin. Tulisan ini adalah pengantar. Sebuah ajakan kepada yang mau. Mau membaca lebih dan berpikir, sehingga bisa memahami mengapa saya menarik kesimpulan sedemikian rupa (yang akan anda baca di sini), sebelum anda mencelanya.


"Cosmos" adalah alam semesta. Semua yang ada di alam ini, yang mengikuti aturan tertentu.

"Cosmic" adalah sesuatu yang bersifat cosmos atau merujuk pada wawasan cosmos di cakupan di atas.

Religion (religi) adalah suatu sistem kepercayaan, ajaran, kultural, memiliki aturan, tradisi, membahas nilai moral, dan nilai kehidupan, serta membahas asal usul kehidupan dan alam semesta itu sendiri.


Ini adalah sebuah ajakan untuk merenung dan berpikir. Yang saya harapkan dari anda setelah membaca tulisan ini adalah menulusuri kembali tulisan-tulisan saya sebelumnya dan tergerak pula untuk melakukan perjalanan anda sendiri. Sebuah perjalanan pengkajian ilmu pengetahuan dan keyakinan, untuk anda sendiri.

-----------------



Singularity


"Hanya ada satu. Singular. Satu aturan. Satu konsep, yang mampu menjelaskan segala sesuatu. Satu Medium. Tidak ada yang lain."


Saya juga berharap anda sudah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya, dan memahami mengapa saya katakan bahwa saya merasa mampu menghubungkan antara science dan Tuhan. Tidak ada alasan untuk tidak menghubungkan Science dan Tuhan. Ini adalah sebuah kepastian. Karena Science berasal dari Tuhan dan Tuhan menciptakan alam ini dengan satu aturan baku yang mengatur segala sesuatu, yaitu hukum alam; science.


Science sudah pada pencapaiannya yang tertinggi saat ini, dimana tidak ada celah untuk maju lebih jauh, sebelum manusia mampu menjelaskan awal dan akhir. 


Ditemukannya Partikel Higgs oleh The Large Hadron Collider (LHC) tidak memupuskan pokok dari keyakinan saya akan adanya sebuah zat tunggal yang menjadi penyebab eksistensi semua partikel dan seluruh isi alam semesta ini. Penemuan partikel Higgs justru memperkuat keyakinan saya. Dan saya merasa jauh lebih dekat kepada kebenaran yang hakiki karenanya.


Tulisan-tulisan saya sebelumnya mengulas lebih banyak mengenai science, khususnya fisika teoretis, dimana fisika sudah menunjukkan definisi yang lebih tepat untuk apa yang kita sebut sebagai partikel fundamental. Yang menarik di sini dan yang menjadi pokok tulisan saya sebelumnya adalah bahwa partikel fundamental sesungguhnya tidak memiliki varian jenis, tapi ia hanya satu jenis. Dengan memandang partikel sebagai string, maka ianya cukup bergetar dengan variasi getaran tertentu untuk menghasilkan apa yang kita amati sebagai partikel-partikel fundamental, seperti quark, electron, photon, dan lainnya, temasuk partikel higgs.

Teori string sangat relevan dengan keberadaan higgs. Kita sekarang boleh membayangkan bahwa alam ini adalah hamparan medan higgs. Higgs memberikan "jiwa" atau eksistensi semua partikel materi yang ada - yaitu massa. Dengan kata lain, tanpa higgs maka partikel materi tidak akan bisa wujud (tidak heran mengapa Higgs disebut-sebut sebagai partikel Tuhan). Higgs adalah membrane. Membrane adalah medium/wadah dimana semua yang ada di alam ini eksis. 

Dengan konsep partikel sebagai string, maka Fisika klasik (Teori relativitas Einstein) dan Fisika Quantum dapat disatukan - dengan ditemukannya "gaviton" di setiap partikel. Graviton ini berhubungan langsung dengan Higgs - sebagai hasil interaksi antar partikel dengan medan Higgs itu sendiri; menjadikan teori ini sebagai teori tunggal yang mampu menjelaskan semua kondisi alam semesta, di setiap titik dimanapun di alam ini.

Karena sifat ke-tunggal-an partikel ini, saya menyebutnya dengan istilah "zat".

Konsep yang sangat kuat dan relevan. Zat tunggal ini tidak memerlukan zat lain untuk eksis. Jika sebuah partikel fundamental masih memerlukan "hal" lain untuk eksis, seperti ruang dan waktu (space and time), maka ia bukanlah partikel fundamental yang hakiki. Untuk menjadi fundamental yang hakiki, maka kita berbicara mengenai sebuah partikel yang tidak memerlukan ruang dan waktu untuk eksis. Malah sebaliknya, bahwa ruang dan waktu tidak akan ada tanpa partikel ini.


Sebuah zat tanpa dimensi, karena ia tidak memerlukan ruang untuk eksis.

Sebuah zat tanpa waktu, karena ia tidak ber-awal dan tidak ber-akhir.

Kalau anda menganggap saya sedang berdakwah untuk suatu agama, Stop membaca sampai di sini, karena pernyataan saya di atas bukan filosofi atau berasal dari agama tertentu. Ini adalah science. Kita bisa bayangkan zat tunggal ini berdimensi nol (zero-point), menempati semua posisi ruang di alam semesta bagaikan Grid. Bagaikan bentangan medan, Fabric of the Cosmos, sebagai medium atau wadah dimana padanya segala sesuatu eksis. Diawali dengan eksis-nya cahaya, dimensi ruang, waktu, dan seluruh obyek alam semesta ini tanpa kecuali. Sebuah cosmos.


Dari yang Singular, menjadi awal dan akhir alam semesta. Sedangkan Yang Satu itu sendiri tidak ber-awal dan tidak ber-akhir. Karena Ia-lah Awal dan Akhir itu sendiri.


Kalau definisi Tuhan adalah yang mengawali segala sesuatu atau yang menjadi penyebab segala sesuatu di alam ini untuk eksis, maka Zat yang hanya Satu itulah Tuhan.

Apakah ini merupakan usaha saya dalam membuktikan keberadaan Tuhan? Ya. Tetapi tentu saja tidak cukup hanya dengan beberapa paragraf di atas. Jika anda kurang puas dengan ulasan ini, kajilah lebih dalam lagi, seperti yang pernah saya lakukan. Jika anda tidak menemukan kesimpulan yang sama dengan saya, anda hanya butuh mendiskusikannya.


Jika anda berpendapat bahwa saya terlalu menguras energi sia-sia untuk pencarian Tuhan, padahal kebenaran bisa langsung didapat di dalam kitab suci, maka anda bukan pemikir seperti saya dan anda punya 2 pilihan; pertama, berhentilah membaca tulisan saya karena anda tidak berpikiran terbuka; kedua, anda boleh terus membaca tapi diamlah. Biarkan mereka yang mau berpikir, berpikir.



Medium


Jika anda memahami dengan benar tulisan di atas, maka anda boleh membayangkan bahwa Tuhan adalah sebuah Medium. Ini adalah sebuah pernyataan yang berani. Ketika saya pernah mengutarakan konsep ini kepada salah seorang teman saya, ia pun berpendapat bahwa ini akan menjadi sebuah konsep yang sangat berani namun elegan karena dapat menjelaskan berbagai macam hal-hal lain yang belum bisa dijelaskan. Saya merasa beruntung karena ia adalah sahabat saya. Jika ia orang lain, mungkin saya akan dicela atau dihujat karena dianggap "sesat".


Lalu mengapa saya berani menuliskannya di sini? Mungkin sudah saatnya. Sudah cukup lama saya menahannya. Karena seungguhnya ini bukan hal yang baru. Ilmu ini sudah ada sejak manusia pertama muncul di bumi ini. 
Dan lagi, ini bukan sebuah ajaran. Ini adalah sebuah ajakan perenungan.

Maka renungkanlah;


Dengan konsep Tuhan sebagai medium, maka Alam semesta ini eksis di dalam sebuah Medium/wadah yang Maha Satu dan Maha Besar. Kita eksis pada-Nya. Kita ada karena Dia Ada. Kita adalah manifestasi dari sebuah zat yang Maha Satu. Kita adalah produk atau proyeksi dari sebuah imajinasi dan Kehendak yang Maha. Sebuah Kuasa yang Maha. Medium yang tidak berujung, tidak bertapal batas. Medium yang tidak ber-awal dan tidak ber-akhir.


Dengan konsep Tuhan sebagai medium, maka ini sangat konsisten dengan sifat Singular dari zat Itu. ESA. Bahwa tidak ada yang eksis di luar medium. Tuhan tidak perlu medium untuk eksis. Karena Tuhan sendirilah medium itu.


Dengan kata lain, tidak ada apapun selain Tuhan.

Tuhan adalah satu-satunya realita yang hakiki.
Jika Tuhan adalah realita yang hakiki maka, kita, sebagai produk imajinasi Sang Kehendak, adalah Fana atau Maya.

Science berhasil membawa ke titik dimana saya meyakini adanya sebuah Zat Tunggal yang menjadi Sebab dari segala sesuatu. Kita eksis pada Zat Tunggal itu dan dan Alam ini patuh pada Satu Aturan baku. Perjalanan ilmu pengetahuan berakhir di Sang Penyebab. The Source.


Maka apa yang terjadi jika kita mati? Bukankah ini adalah inti dari semua ajaran agama di bumi? Mencoba mengetahui apa yang terjadi setelah manusia mati? jika konsep ini benar maka segala yang eksis tentunya akan melebur ke dalam Medium itu.



Agama dan Kebenaran

Bagaimana menguji kebenaran konsep di atas? Apa yang akan anda lakukan selanjutnya?

Seperti yang saya katakan di atas, bahwa science sudah sampai pada titik dimana pertanyaan tersebut tidak atau belum bisa dijawabnya. Saya mencoba beralih pada ajaran-ajaran yang ada di bumi. Dari yang tertua hingga termuda. Apakah konsep ini ada pada ajaran-ajaran itu?

Dan mengapa "Kebenaran yang hakiki" itu penting? Kebanyakan orang berargumen bahwa jika kau yakin terhadap apa yang kau yakini (agamamu) maka itu sudah cukup. Dan karena semua agama mengajarkan hal yang sama, yaitu "Kebaikan", maka jika kau berbuat baik dalam hidupmu, maka itupun sudah cukup. Hidup tentram di bumi, surga tempatmu setelah mati.

Maaf, argumen atau pernyataan seperti di atas itu tidak bisa saya terima begitu saja. Baik itu benar. Benar itu baik. Tapi apakah Kebenaran yang sesungguhnya? Apakah kebenaran yang hakiki? Kebenaran yang hakiki adalah sesuatu yang applicable atau diterima dan berlaku dimana saja di alam ini. Jika Tuhanmu adalah Allah, maka Allah harus ada dimana saja di alam semesta ini. Tidak hanya di bumi. Jika Tuhanmu hanya bisa diterima di bumi, maka ia bukan Tuhan yang sebenarnya.

Terlalu beranikah pernyataan saya di atas. Tidak sama sekali.
Saya dan anda sedang mencari sebuah Kebenaran yang sesungguhnya. Anda dan saya harus setuju akan satu hal, tidak bisa keduanya benar. Bila kita berbeda pendapat, maka salah satu dari kita salah. Kebenaran harus hanya ada SATU, tunggal, dan diterima dimana pun di alam ini. Seperti hukum alam atau hukum fisika dan matematika. Ia berlaku dimanapun kita berada. Jika anda pergi ke planet lain, maka ilmu science yang sama juga berlaku di planet itu. Dan hukum alam merupakan hukum tunggal yang mengatur seluruh alam.

Hukum alam adalah hukum yang mengatur segala sesuatu. Lingkupnya adalah medium alam semesta yang tanpa batas ini. Hukum itu adalah medium itu sendiri. Medium adalah Tuhan, dan Hukum itu pun adalah hukum Tuhan.

Konsep bahwa Alam ini eksis di dalam sebuah medium, dan kita adalah manifestasi dari Tuhan bisa kita dapatkan di ajaran agama. Namun tidak semua agama mengajarkan hal ini secara tersurat. 
Saya anjurkan anda mencarinya sendiri. Jika anda mau berdiskusi, silahkan kirimkan email kepada saya. Saya akan sangat senang menanggapinya. Di sini saya hanya akan membuka jalan saja.

Dan anda mungkin akan terkejut bahwa konsep ini ditemukan di ajaran agama tertua di bumi. Yaitu ajaran Hindu (atau Hinduism). Saya tidak akan menulis panjang lebar mengenai ajaran Hindu, namun akan saya angkat  Intisari atau konsep utama dari ajaran Hindu yaitu mengenai kebenaran yang hakiki, hubungan antara Tuhan (Brahman) dan jiwa/ruh (Atman). Esensi eksistensi manusia adalah kesadaran bahwa Atman dan Brahman adalah satu. Kejadian meleburnya Atman menjadi Brahman disebut Moksha.
Brahman = The power behind and within the cosmos that makes it function and live. Can also be seen as the Ultimate Reality.
Brahman adalah realita yang hakiki (ultimate reality). Dan hanya ada satu yang Nyata/Real. Di luar itu adalah semu/fana, di Hindu disebut, MayaAlam yang kita tempati ini adalah alam Maya yang merupakan manifestasi dari Brahman itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan agama lainnya? Silahkan anda melanjutkan pencarian anda atas pertanyaan ini. Namun konsep/ajaran ini pun ditemukan di dalam Sufi (Sufism).
Sufism = A mystical way of approaching the Islamic faith. It has been defined as "mystical Islamic belief and practice in which Muslims seek to find the truth of divine love and knowledge through direct personal experience of God.
Ajaran Sufi digolongkan sedemikian karena praktiknya dalam mencari kebenaran yang hakiki dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan secara langsung, personal, manusia dan seluruh alam ini tidak lain adalah Satu. yaitu Tuhan itu sendiri.

Lagi, saya tidak akan membahas panjang ajaran Sufi lebih jauh di sini. Cukup saya tarik intisarinya saja karena intisari itulah yang menjadi pokok tulisan saya ini. Mungkin di lain waktu akan saya bahas lebih dalam dan lebih jauh.

Tuhan adalah Medium Tunggal. Tuhan adalah Kebenaran yang Hakiki. Tuhan adalah Realita yang hakiki. Karenanya tidak ada apapun selain Tuhan. Maha Besar, Maha Berkehendak, Maha Mencipta, dan Maha Kuasa.

Tuhan bermanifestasi ke dalam Medium-Nya sebagai alam semesta yang fana/maya. Maka Alam ini adalah Dia. Ruh/atman-nya menempati setiap makhluk ciptaan-Nya. Maka Sesungguhnya Aku dan Dia adalah Satu. Aku adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Aku.

----------------

Saya mengangkat contoh kesamaan antara ajaran tertua dan termuda di bumi. Intisari ajarannya adalah sama. Maka, tergantung anda menyimpulkan. Jika anda bersedia sedikit melapangkan pandangan dan pikiran, saya sarankan untuk menaruh perhatian lebih kepada konsep inti dari kedua agama tersebut.


Hinduism

 

Ada dua buah sumber pengetahuan ajaran Hindu yang saya singgung di sini. Kitab Upanishads dan Bhagavad Gita.

Upanishads adalah kitab penutup Veda, yang berisi intisari dari ajaran Hindu. Upanishads adalah kumpulan syair-syair yang tidak diketahui siapa yang menuliskannya pertama kali, dan diajarkan atau diturunkan dari mulut ke mulut. Upanishads berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti "duduk dekat", yang dimaksudkan dengan duduk di dekat gurumu untuk menerima ilmu. 

Bhagavad Gita (arti: nyanyian Bhagavan, atau nyanyian spritiual) adalah kitab sempalan dari Kitab yang lebih besar yaitu Mahabharata. Bhagavad Gita adalah bagian dari kitab Mahabharata yang mengangkat kisah percapakan antara Arjuna dan Krishna. Ketika Arjuna mengalami kegundahan karena harus memerangi saudaranya sendiri, Khurawa, Ia bertanya kepada Krishna, apa yang harus ia lakukan dan bagaimana menyelesaikan dilema yang dihadapinya tersebut. 700 ayat Bhagavad Gita, atau nyanyian sprititual - karena ini adalah momen pencerahan yang suci, sebuah percakapan penting, dan ajaran kebenaran yang hakiki - adalah pendefinisian dari kebenaran yang hakiki, yaitu bahwa Atman adalah Brahman. Jiwamu adalah Tuhan. Tidak ada yang Nyata selain Tuhan. Tuhan-lah realita yang hakiki. Sedangkan yang lainnya adalah maya/semu/fana.

Kegundahan dihasilkan dari kehawatiran akan hasil akhir dari sebuah usaha. Maka lakukanlah apa yang kau usahakan dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, tanpa ragu, dengan kepasrahan kepada Tuhan. Tuhan ada adalah Atman-mu. Yang Maha Benar. Dan hasil akhir tidaklah relevan.

Seorang ilmuwan fisika teoretis, Professor Harold Dean Brown dari Amerika, adalah orang pertama yang melakukan terjemahan kitab Upanishads ke dalam bahasa Inggris. Dalam sebuah wawancara di televisi Israel, ditanyakan mengapa ia, seorang ilmuwan fisika teoretis menggeluti ajaran/tradisi sanskrit? ia menjawab, bahwa tidak hanya dia seorang dari para ilmuwan fisika teoretis yang melakukan hal ini. Tidak sedikit mereka (para ilmuwan) juga menaruh perhatian lebih kepada ajaran-ajaran kuno. Dan ini dilakukan karena dirasa perlu. Jawaban kebenaran atas berbagai pertanyaan mengenai kehidupan dan alam semesta bisa ditemukan di ajaran-ajarn kuno, yang dalam hal ini, Prof Dean Brown mengarahkan perhatiannya pada kitab Upanishad dan Yoga Sutra. Ketertarikannya itu menggerakkannya untuk menerjemahkan kedua kitab tersebut dan mempelajarinya.

Yang ditemukannya telah membuka tabir yang selama ini tertutup dari orang umum. Dimulai dari bahasa Sanskrit itu sendiri yang kemungkinan besar adalah bahasa tertua di bumi (atau salah satu yang tertua), yang berupa akar dari bahasa-bahasa lainnya di dunia, termasuk bahasa Inggris, Yunani kuno, dan lainnya. Sehingga hal ini mengindikasikan bahwa ajaran-ajaran yang dibawa oleh mereka yang berbahasa sanskrit juga merupakan ajaran tertua di bumi. Selanjutnya Prof Dean juga menemukan bahwa bahasa Sanskirt ada dua macam. Yang digunakan dalam kitab-kitab adalah Sanskrit formal yang hanya digunakan oleh ilmuwan, pemimpin agama, dan keluarga kerajaan. Sebuah bahasa yang memiliki kedudukan tinggi di society pengguna bahasa itu sendiri di zamannya dulu.

Lalu mengapa hal itu penting? Mengapa dengan diketahuinya bahwa Hindu adalah agama tertua menjadikannya hal yang penting? Bukankah akan lebih mudah mempelajari agama yang lebih muda untuk sebuah pencarian kebenaran yang hakiki bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini? Tentu saja hal ini menjadi persoalan yang pelik yang saya hadapi. Namun, ada sesuatu yang luar biasa di sini. Hal ini berawal dari sebuah pertanyaan, 'Mengapa agama tertua di bumi ini memiliki konsep yang sangat dalam dan sangat kuat? (yang bagi saya konsep ini adalah konsep yang benar). Mungkin kalau saja saya tidak menemukan kebenaran di sana, maka saya pun sudah akan menghentikan pembelajaran saya atas ajaran ini. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak masuk akal kalau kita berpatokan pada pelajaran sejarah yang diajarkan di bangku sekolah. Bagaimana mungkin manusia kuno (yang identik dengan keterbelakangan pengetahuan/ilmu) sudah bisa merumuskan suatu konsep yang sama benarnya dengan apa yang diajarkan di agama lain yang jauh lebih muda?

Tidakkah ini sebuah kenyataan yang misterius dan butuh perhatian lebih?
Maka saya pun mulai mencari. Dan temuan yang saya dapatkan dari buku-buku maupun film dokumenter memberikan alternatif berpikir baru.

Tidak ada yang tau kapan ajaran Hindu ini dimulai, siapa yang mengajarkannya pertama kali, Tidak ada keterangan bahwa adanya Nabi atau Rosul yang membawakan ajaran ini. Namun tidak sedikit orang sudah menemukan bukti-bukti peradaban kuno di tempat-tempat tertentu yang cukup luar biasa. Yaitu di dasar laut. Penemuan reruntuhan kota besar dan kompleks yang berukuran sebesar Manhattan di dasar laut beberapa mil dari Kota Dwarka, India Utara, menegaskan kepada kita bahwa pernah ada peradaban manusia yang sudah sangat maju di zaman dahulu kala, dimana kota tersebut masih di atas permukaan laut - permukaan laut masih rendah, yaitu sebelum zaman es berakhir. Penelitian melalui simulasi komputer memperlihatkan bahwa permukaan air laut serendah itu pernah tercapai adalah sekitar 12,000 tahun yang lalu. Dan melihat betapa besar dan kompleksnya sisa bangunan tersebut tentunya peradaban manusia harus sudah sangat maju untuk bisa membangunnya. Dan itu hanya bisa dicapai bila peradaban manusia sudah dimulai jauh lebih tua dari 12,000 tahun. Para peneliti menemukan fosil-fosil peralatan yang berumur 30,000 tahun, Sehingga ada kemungkinan kuat peradaban manusia telah dimulai jauh lebih tua lagi. Penemuan ini mendobrak ilmu main-stream yang menyatakan bahwa peradaban manusia baru dimulai sejak 5,000 tahun silam. Seharusnya penemuan-penemuan seperti penemuan kota Dwarka kuno bisa mendapatkan perhatian khusus dari komunitas itu. Saya sarankan anda melakukan pencarian sendiri berita mengenai penemuan kota-kota kuno yang mengungkap adanya bukti peradaban silam.

Peradaban kuno tersebut kemudian musnah karena adanya bencana besar. Pergeseran kerak bumi dalam semalam, yang menyebabkan gempa dan banjir besar, yang kemudian ditutup dengan mencairnya es di kutub yang menaikkan tinggi permukaan laut yang kita lihat sekarang ini. Inti dari ajaran tersebut selamat (survive) ke tangan masyarakat di sekitar lembah Indus, yang kemudian disebut sebagai "Hindu".

Nama "Hindu" sendiri dalam sejarahnya bukan nama asli dari agama ini. Nama ini diberikan oleh orang Inggris yang datang ke India, untuk membedakan antara masyarakat asli yang menempati lembah Indus dengan masyarakat pendatang.

Singkat cerita, semua ini sungguh membangkitkan rasa ingin tau, membuka mata, degupan kencang di dalam dada, berdebar seolah berhasil membuka pintu harta karun - kembali ke pertanyaan awal, 'mengapa pada agama tertua terdapat ajaran kuat?' - adalah bahwa pada masa itu manusia memang sudah mampu berpikir, berfilsafat, mengkaji, ditambah dengan ilmu fisika, matematika dan astronomi yang maju, untuk menyimpulkan sebuah ajaran terpadu akan kebenaran yang hakiki. Sebuah konsep kuat akan Tuhan.

Dan jika memang benar mengenai sejarah agama Hindu sudah dimulai sejak puluhan ribu tahun silam, maka bagi saya hal ini harus menjadi pedoman penting. Kita, manusia yang hidup di zaman (yang katanya) modern ini ternyata tidak lebih maju dari nenek moyang kita sendiri. Dan dalam pencarian kebenaran yang hakiki, kita harus "melanjutkan" apa yang pernah ada itu, dan bukanlah mencari yang baru dari nol.

Ini seperti membayangkan seorang anak kecil yang kesulitan menyelesaikan soal latihan matematika, kemudian ia menemukan buku usang di gudang tua di belakang rumah mengenai cara mudah menyelesaikan perhitungan matematika dasar. Dengan bantuan pengetahuan yang ada di dalam buku itu, sang anakpun berhasil menyelesaikan pekerjan rumahnya. Tidak hanya itu, ia juga mengerti dan paham. Lalu, secara logis dan naluriah, sang anak menyimpan buku itu sebagai pedoman belajar matematikanya. Siapa yang menulis buku tesebut? Tentunya buku itu ditulis oleh orang yang hidup jauh sebelum sang anak lahir, dan memiliki pengetahuan yang jauh lebih maju.



Sufism

"Aku mohon izin dan mukjizat Allah Yang Agung. Aku mohon kepada Allah yang berdiam dalam diriku, yang bertapa dalam raga badanku, yang menggerakkan seluruh anggota badanku. Aku mengakui tiada lain yang aku puja selain Allah yang ada di dalam diriku."

"Aku menyerahkan seluruh badanku, dilindungi dari segala bala', dilindungi dengan tirai mukjizat Allah. Dibukakan pintu ilmu. Ilmu yang nyata, yang bukti kuasa Allah."


Ajaran Sufi dipercaya sebagai ajaran inti Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang bersifat mistis. Serupa dengan inti ajaran Hindu.

Intisari dari ajaran Sufi ini adalah bahwa manusia dan semua ciptaan yang ada di alam ini adalah satu dalam Tuhan. Namun manusia telah lupa akan hal ini. Oleh karenanya manusia harus berusaha mengingat Tuhan dalam diri, bahwa aku dan Tuhan adalah Satu, dan Tuhan adalah realita yang hakiki. Zikr = pengingatan. Dengan menyebut nama Tuhan berulang-ulang dalam konsentrasi dan kepasrahan.

Tuhan adalah Yang tidak bernama namun memilki banyak sebutan, tidak bisa dijelaskan melalu metode apapun. Science dan Tuhan adalah satu. Ini adalah evolusi manusia selanjutnya. Sebuah Oneness, penyatuan. Semakin jauh manusia mengkaji science, ia akan menemukan Tuhan.

Ajaran Sufi disebut sebagai aliran Islam mistis, yaitu yang melakukan pencerahan ke kebenaran yang hakiki dengan membangkitkan Tuhan dan bertemu Tuhan di dalam diri. Alam tercipta dari cahaya yang pertama. Cahaya itu kekal dan cahaya itu selalu terpancar dari mereka yang ingat Tuhan di dalam diri.

Tidak ada apapun selain Tuhan itu sendiri.
Tuhan adalah aku, kamu, bumi, planet-planet, galaksi, dan seluruh alam. Tidak ada yang lainnya selain Tuhan. Di dalam medium Tuhan, kita semua eksis. Eksis di dalam ke-maya-an, ke-fana-an. Kita eksis sebagai manifestasi dari Tuhan. Kita eksis karena Tuhan berkehendak, maka kita ada.

Terlalu mistis untuk dijelaskan oleh science? Mungkin. Tapi menurut saya tidak. Sudah saya jelaskan dengan gamblang di tulisan-tulisan saya bahwa science berhasil mengintip keberadaan suatu zat yang Maha Satu. Tidak ada apapun selain Tuhan itu sendiri. Hanya Tuhan yang kekal. Tidak ada duality, tidak ada polarity. Semua yang ada di alam ini adalah maya atau fana. Yang real hanya satu. Tuhan. Penyatuan diri dengan Tuhan adalah ultimate goal. Tujuan yang sebenarnya.

Tuhan adalah Cinta. Hubungan manusia dengan Tuhan adalah cinta. Bukan seperti cinta antar manusia karena dasar emosional, tapi cinta yang berupa kepasrahan total. Kerelaan total. Rela meninggalkan semua yang fana dan karma. Totalitas mencintai Tuhan. Tidak ada yang lebih penting dari menjadi kekasih Tuhan. Pada akhirnya manusia akan bersatu dengan Tuhan.

"Science and God will become one. This is part of the next stage of human evolution."
"No one can explain God. Only God can explain God."
"Everything is God. God is the ultimate reality."




Cosmic Religion

Sangat mencengangkan bahwa ajaran Hindu (tertua) dan ajaran Islam melalui Sufi (termuda) memiliki konsep yang sama. Bagi saya ini teramat sangat mencerahkan, memberi kepastian hati, memberi motivasi, memberikan kehidupan ini sebuah arti yang sesungguhnya yang patut didalami dan dipelajari. This is the real meaning of our existence.
Tidakkah ini juga mencerahkan untuk anda? Saya harapkan demikian. Karena dengan alasan inilah saya menulis artikel ini.

Saya berkeyakinan bahwa di masa lalu, jauh sebelum apa yang diyakini para scholar formal mengenai sejarah peradaban manusia di bumi, adalah sebuah peradaban maju, dan adalah satu ajaran dengan cakupan menyeluruh tanpa menempatkan apapun di luar cakupannya. Ajaran yang meliputi Realita yang hakiki dan Realita yang maya. Sebuah ajaran tanpa banyak aturan dan hukum, tanpa bias, tanpa kias. Sebuah konsep langsung (direct).

Dan seharusnya konsep agung mengenai Tuhan ini mampu mempersatukan semua ajaran yang ada sekarang ke dalam satu ajaran tunggal. Peleburan paham, keyakinan, ke dalam satu paham Ketuhanan yang Tunggal. Jika kita percaya Tuhan itu satu, maka kita hanya butuh satu agama di bumi ini.

Peleburan ini adalah penyatuan antara kita dengan Tuhan. Dan ini hanya bisa dilakukan bila manusia tau dan sadar akan kebenaran yang hakiki, dan Realita yang hakiki. Penyatuan ini hanya bisa dicapai melalui cinta Tuhan, karena kemanapun kita memandang, ada Tuhan di situ. Pandang sesama makhluk dengan cinta pada Tuhan. Melepaskan seluruh ikatan badaniyahnya di kehidupan maya, memutus karma dan hanya berserah diri semata-mata untuk menyatu dengan Tuhan di dalam diri dan di seluruh alam, secara nyata.

Oneness adalah evolusi manusia selanjutnya. Dan ini sudah dimulai. Nantinya manusia tidak perlu agama. Karena manusia akan berada pada tingkat kesadaran baru. Kesadaran akan kebenaran yang hakiki.

Cosmic Religion is no religion. There is only God.


aku dan dia

Aku adalah dia - sebagai sosok ketiga. Dia adalah jasad yang mengurung aku yang sesungguhnya. Sesungguhnya aku di sini, juga di sana, dan dimana-mana. Essensi diriku adalah segenap alam semesta.

Dia hidup di alam semu, alam fana, alam maya, alam yang berupa kedok, tabir yang menutupi kebenaran yang sesunggunya, menutupi kebenaran yang hakiki. Namun dia harus hidup walaupun aku tau hanya sementara. Dia pun harus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di alam fana ini. Walaupun dia hidup di alam maya, tapi ia tetap harus berusaha untuk itu.

Maka aku sudah harus belajar menemukan arah yang benar, menuju kebenaran yang hakiki. Karena di kebenaran itulah tempatku yang sesungguhnya. Aku harus menyadari bahwa kesadaran yang ditempuh dari kefanaan adalah tidak nyata. Aku harus melihat dari 'mata' -ku yang sesungguhnya.
Ritme alam semesta sungguh indah, sungguh teratur dan semuanya menyatu dalam sebuah kebenaran yang hakiki. Lantunan melody alam yang sungguh mempesona ruhku. Maka kumulai menyanyikan sebentuk keindahan itu dengan kepasrahan menyeluruh.

Aku dan kamu adalah satu. Dan karena aku dan kamu adalah sama, maka aku memandang dirimu seperti diriku juga. Aku mencintai diriku dan mencintai dirimu. Seperti juga aku mencintai seluruh alam ini, yang meliputi keseluruhan medium Yang Maha.

Tuhan adalah satu bersamaku, bersamamu, bersama seluruh alam ini. Kupanggil namamu ketika aku memejamkan mata semuku, dan kulihat dirimu di dalam diriku.

We are made of light. The same light that created the entire universe with no exception. You should see the light. You radiate light every time you are closer to the ultimate reality. The light will reveal the ultimate truth. It is only you.

The light need no rule, no regulation, no exception. The light has no duality. The light only realises one ultimate reality, one ultimate truth of every existence. The light is the singular of All things.

Your body is a vessel. The light need no container. It has to be released if you have not realised it. But if you do, then you have to learn from it and exist as it.

aku dan dia adalah kamu, adalah Dia.

La illaha illallah, There is no God but God.
O M  Shanti  Shanti  Shanti

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar