Selasa, 07 Juli 2015

Cosmic Religion

Cosmic Religion


Satu Kebenaran yang Hakiki

Untuk para Pemikir.
Tidak perlu saya ungkapkan betapa sulitnya menuliskan apa yang ada di dalam benak saya. Perlu waktu lama berpikir hanya untuk memilih kata-kata yang tepat. Beberapa tulisan harus saya batalkan dan mengharuskan saya menulis lagi dari awal. Saya harap apa yang saya publish terakhir ini cukup baik untuk dibaca. Dan semoga bukan menjadi tulisan saya yang terakhir.

Yang menjadikannya sulit adalah karena topik ini memiliki latar belakang yang sangat luas. Terasa sangat tidak mungkin menyinggung semua wacana yang melatar-belakangi tulisan ini. Kecuali saya berencana menulis buku yang paling tidak setebal 1000 halaman.


Alasan saya memilih topik ini adalah karena semakin jauh saya berpikir dan mempelajari segala hal mengenai alam dan kehidupan, kesimpulan yang saya dapati sangat mencengangkan dan merubah cara berpikir saya. Tulisan ini bukan sebuah ajaran atau doktrin. Tulisan ini adalah pengantar. Sebuah ajakan kepada yang mau. Mau membaca lebih dan berpikir, sehingga bisa memahami mengapa saya menarik kesimpulan sedemikian rupa (yang akan anda baca di sini), sebelum anda mencelanya.


"Cosmos" adalah alam semesta. Semua yang ada di alam ini, yang mengikuti aturan tertentu.

"Cosmic" adalah sesuatu yang bersifat cosmos atau merujuk pada wawasan cosmos di cakupan di atas.

Religion (religi) adalah suatu sistem kepercayaan, ajaran, kultural, memiliki aturan, tradisi, membahas nilai moral, dan nilai kehidupan, serta membahas asal usul kehidupan dan alam semesta itu sendiri.


Ini adalah sebuah ajakan untuk merenung dan berpikir. Yang saya harapkan dari anda setelah membaca tulisan ini adalah menulusuri kembali tulisan-tulisan saya sebelumnya dan tergerak pula untuk melakukan perjalanan anda sendiri. Sebuah perjalanan pengkajian ilmu pengetahuan dan keyakinan, untuk anda sendiri.

-----------------



Singularity


"Hanya ada satu. Singular. Satu aturan. Satu konsep, yang mampu menjelaskan segala sesuatu. Satu Medium. Tidak ada yang lain."


Saya juga berharap anda sudah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya, dan memahami mengapa saya katakan bahwa saya merasa mampu menghubungkan antara science dan Tuhan. Tidak ada alasan untuk tidak menghubungkan Science dan Tuhan. Ini adalah sebuah kepastian. Karena Science berasal dari Tuhan dan Tuhan menciptakan alam ini dengan satu aturan baku yang mengatur segala sesuatu, yaitu hukum alam; science.


Science sudah pada pencapaiannya yang tertinggi saat ini, dimana tidak ada celah untuk maju lebih jauh, sebelum manusia mampu menjelaskan awal dan akhir. 


Ditemukannya Partikel Higgs oleh The Large Hadron Collider (LHC) tidak memupuskan pokok dari keyakinan saya akan adanya sebuah zat tunggal yang menjadi penyebab eksistensi semua partikel dan seluruh isi alam semesta ini. Penemuan partikel Higgs justru memperkuat keyakinan saya. Dan saya merasa jauh lebih dekat kepada kebenaran yang hakiki karenanya.


Tulisan-tulisan saya sebelumnya mengulas lebih banyak mengenai science, khususnya fisika teoretis, dimana fisika sudah menunjukkan definisi yang lebih tepat untuk apa yang kita sebut sebagai partikel fundamental. Yang menarik di sini dan yang menjadi pokok tulisan saya sebelumnya adalah bahwa partikel fundamental sesungguhnya tidak memiliki varian jenis, tapi ia hanya satu jenis. Dengan memandang partikel sebagai string, maka ianya cukup bergetar dengan variasi getaran tertentu untuk menghasilkan apa yang kita amati sebagai partikel-partikel fundamental, seperti quark, electron, photon, dan lainnya, temasuk partikel higgs.

Teori string sangat relevan dengan keberadaan higgs. Kita sekarang boleh membayangkan bahwa alam ini adalah hamparan medan higgs. Higgs memberikan "jiwa" atau eksistensi semua partikel materi yang ada - yaitu massa. Dengan kata lain, tanpa higgs maka partikel materi tidak akan bisa wujud (tidak heran mengapa Higgs disebut-sebut sebagai partikel Tuhan). Higgs adalah membrane. Membrane adalah medium/wadah dimana semua yang ada di alam ini eksis. 

Dengan konsep partikel sebagai string, maka Fisika klasik (Teori relativitas Einstein) dan Fisika Quantum dapat disatukan - dengan ditemukannya "gaviton" di setiap partikel. Graviton ini berhubungan langsung dengan Higgs - sebagai hasil interaksi antar partikel dengan medan Higgs itu sendiri; menjadikan teori ini sebagai teori tunggal yang mampu menjelaskan semua kondisi alam semesta, di setiap titik dimanapun di alam ini.

Karena sifat ke-tunggal-an partikel ini, saya menyebutnya dengan istilah "zat".

Konsep yang sangat kuat dan relevan. Zat tunggal ini tidak memerlukan zat lain untuk eksis. Jika sebuah partikel fundamental masih memerlukan "hal" lain untuk eksis, seperti ruang dan waktu (space and time), maka ia bukanlah partikel fundamental yang hakiki. Untuk menjadi fundamental yang hakiki, maka kita berbicara mengenai sebuah partikel yang tidak memerlukan ruang dan waktu untuk eksis. Malah sebaliknya, bahwa ruang dan waktu tidak akan ada tanpa partikel ini.


Sebuah zat tanpa dimensi, karena ia tidak memerlukan ruang untuk eksis.

Sebuah zat tanpa waktu, karena ia tidak ber-awal dan tidak ber-akhir.

Kalau anda menganggap saya sedang berdakwah untuk suatu agama, Stop membaca sampai di sini, karena pernyataan saya di atas bukan filosofi atau berasal dari agama tertentu. Ini adalah science. Kita bisa bayangkan zat tunggal ini berdimensi nol (zero-point), menempati semua posisi ruang di alam semesta bagaikan Grid. Bagaikan bentangan medan, Fabric of the Cosmos, sebagai medium atau wadah dimana padanya segala sesuatu eksis. Diawali dengan eksis-nya cahaya, dimensi ruang, waktu, dan seluruh obyek alam semesta ini tanpa kecuali. Sebuah cosmos.


Dari yang Singular, menjadi awal dan akhir alam semesta. Sedangkan Yang Satu itu sendiri tidak ber-awal dan tidak ber-akhir. Karena Ia-lah Awal dan Akhir itu sendiri.


Kalau definisi Tuhan adalah yang mengawali segala sesuatu atau yang menjadi penyebab segala sesuatu di alam ini untuk eksis, maka Zat yang hanya Satu itulah Tuhan.

Apakah ini merupakan usaha saya dalam membuktikan keberadaan Tuhan? Ya. Tetapi tentu saja tidak cukup hanya dengan beberapa paragraf di atas. Jika anda kurang puas dengan ulasan ini, kajilah lebih dalam lagi, seperti yang pernah saya lakukan. Jika anda tidak menemukan kesimpulan yang sama dengan saya, anda hanya butuh mendiskusikannya.


Jika anda berpendapat bahwa saya terlalu menguras energi sia-sia untuk pencarian Tuhan, padahal kebenaran bisa langsung didapat di dalam kitab suci, maka anda bukan pemikir seperti saya dan anda punya 2 pilihan; pertama, berhentilah membaca tulisan saya karena anda tidak berpikiran terbuka; kedua, anda boleh terus membaca tapi diamlah. Biarkan mereka yang mau berpikir, berpikir.



Medium


Jika anda memahami dengan benar tulisan di atas, maka anda boleh membayangkan bahwa Tuhan adalah sebuah Medium. Ini adalah sebuah pernyataan yang berani. Ketika saya pernah mengutarakan konsep ini kepada salah seorang teman saya, ia pun berpendapat bahwa ini akan menjadi sebuah konsep yang sangat berani namun elegan karena dapat menjelaskan berbagai macam hal-hal lain yang belum bisa dijelaskan. Saya merasa beruntung karena ia adalah sahabat saya. Jika ia orang lain, mungkin saya akan dicela atau dihujat karena dianggap "sesat".


Lalu mengapa saya berani menuliskannya di sini? Mungkin sudah saatnya. Sudah cukup lama saya menahannya. Karena seungguhnya ini bukan hal yang baru. Ilmu ini sudah ada sejak manusia pertama muncul di bumi ini. 
Dan lagi, ini bukan sebuah ajaran. Ini adalah sebuah ajakan perenungan.

Maka renungkanlah;


Dengan konsep Tuhan sebagai medium, maka Alam semesta ini eksis di dalam sebuah Medium/wadah yang Maha Satu dan Maha Besar. Kita eksis pada-Nya. Kita ada karena Dia Ada. Kita adalah manifestasi dari sebuah zat yang Maha Satu. Kita adalah produk atau proyeksi dari sebuah imajinasi dan Kehendak yang Maha. Sebuah Kuasa yang Maha. Medium yang tidak berujung, tidak bertapal batas. Medium yang tidak ber-awal dan tidak ber-akhir.


Dengan konsep Tuhan sebagai medium, maka ini sangat konsisten dengan sifat Singular dari zat Itu. ESA. Bahwa tidak ada yang eksis di luar medium. Tuhan tidak perlu medium untuk eksis. Karena Tuhan sendirilah medium itu.


Dengan kata lain, tidak ada apapun selain Tuhan.

Tuhan adalah satu-satunya realita yang hakiki.
Jika Tuhan adalah realita yang hakiki maka, kita, sebagai produk imajinasi Sang Kehendak, adalah Fana atau Maya.

Science berhasil membawa ke titik dimana saya meyakini adanya sebuah Zat Tunggal yang menjadi Sebab dari segala sesuatu. Kita eksis pada Zat Tunggal itu dan dan Alam ini patuh pada Satu Aturan baku. Perjalanan ilmu pengetahuan berakhir di Sang Penyebab. The Source.


Maka apa yang terjadi jika kita mati? Bukankah ini adalah inti dari semua ajaran agama di bumi? Mencoba mengetahui apa yang terjadi setelah manusia mati? jika konsep ini benar maka segala yang eksis tentunya akan melebur ke dalam Medium itu.



Agama dan Kebenaran

Bagaimana menguji kebenaran konsep di atas? Apa yang akan anda lakukan selanjutnya?

Seperti yang saya katakan di atas, bahwa science sudah sampai pada titik dimana pertanyaan tersebut tidak atau belum bisa dijawabnya. Saya mencoba beralih pada ajaran-ajaran yang ada di bumi. Dari yang tertua hingga termuda. Apakah konsep ini ada pada ajaran-ajaran itu?

Dan mengapa "Kebenaran yang hakiki" itu penting? Kebanyakan orang berargumen bahwa jika kau yakin terhadap apa yang kau yakini (agamamu) maka itu sudah cukup. Dan karena semua agama mengajarkan hal yang sama, yaitu "Kebaikan", maka jika kau berbuat baik dalam hidupmu, maka itupun sudah cukup. Hidup tentram di bumi, surga tempatmu setelah mati.

Maaf, argumen atau pernyataan seperti di atas itu tidak bisa saya terima begitu saja. Baik itu benar. Benar itu baik. Tapi apakah Kebenaran yang sesungguhnya? Apakah kebenaran yang hakiki? Kebenaran yang hakiki adalah sesuatu yang applicable atau diterima dan berlaku dimana saja di alam ini. Jika Tuhanmu adalah Allah, maka Allah harus ada dimana saja di alam semesta ini. Tidak hanya di bumi. Jika Tuhanmu hanya bisa diterima di bumi, maka ia bukan Tuhan yang sebenarnya.

Terlalu beranikah pernyataan saya di atas. Tidak sama sekali.
Saya dan anda sedang mencari sebuah Kebenaran yang sesungguhnya. Anda dan saya harus setuju akan satu hal, tidak bisa keduanya benar. Bila kita berbeda pendapat, maka salah satu dari kita salah. Kebenaran harus hanya ada SATU, tunggal, dan diterima dimana pun di alam ini. Seperti hukum alam atau hukum fisika dan matematika. Ia berlaku dimanapun kita berada. Jika anda pergi ke planet lain, maka ilmu science yang sama juga berlaku di planet itu. Dan hukum alam merupakan hukum tunggal yang mengatur seluruh alam.

Hukum alam adalah hukum yang mengatur segala sesuatu. Lingkupnya adalah medium alam semesta yang tanpa batas ini. Hukum itu adalah medium itu sendiri. Medium adalah Tuhan, dan Hukum itu pun adalah hukum Tuhan.

Konsep bahwa Alam ini eksis di dalam sebuah medium, dan kita adalah manifestasi dari Tuhan bisa kita dapatkan di ajaran agama. Namun tidak semua agama mengajarkan hal ini secara tersurat. 
Saya anjurkan anda mencarinya sendiri. Jika anda mau berdiskusi, silahkan kirimkan email kepada saya. Saya akan sangat senang menanggapinya. Di sini saya hanya akan membuka jalan saja.

Dan anda mungkin akan terkejut bahwa konsep ini ditemukan di ajaran agama tertua di bumi. Yaitu ajaran Hindu (atau Hinduism). Saya tidak akan menulis panjang lebar mengenai ajaran Hindu, namun akan saya angkat  Intisari atau konsep utama dari ajaran Hindu yaitu mengenai kebenaran yang hakiki, hubungan antara Tuhan (Brahman) dan jiwa/ruh (Atman). Esensi eksistensi manusia adalah kesadaran bahwa Atman dan Brahman adalah satu. Kejadian meleburnya Atman menjadi Brahman disebut Moksha.
Brahman = The power behind and within the cosmos that makes it function and live. Can also be seen as the Ultimate Reality.
Brahman adalah realita yang hakiki (ultimate reality). Dan hanya ada satu yang Nyata/Real. Di luar itu adalah semu/fana, di Hindu disebut, MayaAlam yang kita tempati ini adalah alam Maya yang merupakan manifestasi dari Brahman itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan agama lainnya? Silahkan anda melanjutkan pencarian anda atas pertanyaan ini. Namun konsep/ajaran ini pun ditemukan di dalam Sufi (Sufism).
Sufism = A mystical way of approaching the Islamic faith. It has been defined as "mystical Islamic belief and practice in which Muslims seek to find the truth of divine love and knowledge through direct personal experience of God.
Ajaran Sufi digolongkan sedemikian karena praktiknya dalam mencari kebenaran yang hakiki dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan secara langsung, personal, manusia dan seluruh alam ini tidak lain adalah Satu. yaitu Tuhan itu sendiri.

Lagi, saya tidak akan membahas panjang ajaran Sufi lebih jauh di sini. Cukup saya tarik intisarinya saja karena intisari itulah yang menjadi pokok tulisan saya ini. Mungkin di lain waktu akan saya bahas lebih dalam dan lebih jauh.

Tuhan adalah Medium Tunggal. Tuhan adalah Kebenaran yang Hakiki. Tuhan adalah Realita yang hakiki. Karenanya tidak ada apapun selain Tuhan. Maha Besar, Maha Berkehendak, Maha Mencipta, dan Maha Kuasa.

Tuhan bermanifestasi ke dalam Medium-Nya sebagai alam semesta yang fana/maya. Maka Alam ini adalah Dia. Ruh/atman-nya menempati setiap makhluk ciptaan-Nya. Maka Sesungguhnya Aku dan Dia adalah Satu. Aku adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Aku.

----------------

Saya mengangkat contoh kesamaan antara ajaran tertua dan termuda di bumi. Intisari ajarannya adalah sama. Maka, tergantung anda menyimpulkan. Jika anda bersedia sedikit melapangkan pandangan dan pikiran, saya sarankan untuk menaruh perhatian lebih kepada konsep inti dari kedua agama tersebut.


Hinduism

 

Ada dua buah sumber pengetahuan ajaran Hindu yang saya singgung di sini. Kitab Upanishads dan Bhagavad Gita.

Upanishads adalah kitab penutup Veda, yang berisi intisari dari ajaran Hindu. Upanishads adalah kumpulan syair-syair yang tidak diketahui siapa yang menuliskannya pertama kali, dan diajarkan atau diturunkan dari mulut ke mulut. Upanishads berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti "duduk dekat", yang dimaksudkan dengan duduk di dekat gurumu untuk menerima ilmu. 

Bhagavad Gita (arti: nyanyian Bhagavan, atau nyanyian spritiual) adalah kitab sempalan dari Kitab yang lebih besar yaitu Mahabharata. Bhagavad Gita adalah bagian dari kitab Mahabharata yang mengangkat kisah percapakan antara Arjuna dan Krishna. Ketika Arjuna mengalami kegundahan karena harus memerangi saudaranya sendiri, Khurawa, Ia bertanya kepada Krishna, apa yang harus ia lakukan dan bagaimana menyelesaikan dilema yang dihadapinya tersebut. 700 ayat Bhagavad Gita, atau nyanyian sprititual - karena ini adalah momen pencerahan yang suci, sebuah percakapan penting, dan ajaran kebenaran yang hakiki - adalah pendefinisian dari kebenaran yang hakiki, yaitu bahwa Atman adalah Brahman. Jiwamu adalah Tuhan. Tidak ada yang Nyata selain Tuhan. Tuhan-lah realita yang hakiki. Sedangkan yang lainnya adalah maya/semu/fana.

Kegundahan dihasilkan dari kehawatiran akan hasil akhir dari sebuah usaha. Maka lakukanlah apa yang kau usahakan dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, tanpa ragu, dengan kepasrahan kepada Tuhan. Tuhan ada adalah Atman-mu. Yang Maha Benar. Dan hasil akhir tidaklah relevan.

Seorang ilmuwan fisika teoretis, Professor Harold Dean Brown dari Amerika, adalah orang pertama yang melakukan terjemahan kitab Upanishads ke dalam bahasa Inggris. Dalam sebuah wawancara di televisi Israel, ditanyakan mengapa ia, seorang ilmuwan fisika teoretis menggeluti ajaran/tradisi sanskrit? ia menjawab, bahwa tidak hanya dia seorang dari para ilmuwan fisika teoretis yang melakukan hal ini. Tidak sedikit mereka (para ilmuwan) juga menaruh perhatian lebih kepada ajaran-ajaran kuno. Dan ini dilakukan karena dirasa perlu. Jawaban kebenaran atas berbagai pertanyaan mengenai kehidupan dan alam semesta bisa ditemukan di ajaran-ajarn kuno, yang dalam hal ini, Prof Dean Brown mengarahkan perhatiannya pada kitab Upanishad dan Yoga Sutra. Ketertarikannya itu menggerakkannya untuk menerjemahkan kedua kitab tersebut dan mempelajarinya.

Yang ditemukannya telah membuka tabir yang selama ini tertutup dari orang umum. Dimulai dari bahasa Sanskrit itu sendiri yang kemungkinan besar adalah bahasa tertua di bumi (atau salah satu yang tertua), yang berupa akar dari bahasa-bahasa lainnya di dunia, termasuk bahasa Inggris, Yunani kuno, dan lainnya. Sehingga hal ini mengindikasikan bahwa ajaran-ajaran yang dibawa oleh mereka yang berbahasa sanskrit juga merupakan ajaran tertua di bumi. Selanjutnya Prof Dean juga menemukan bahwa bahasa Sanskirt ada dua macam. Yang digunakan dalam kitab-kitab adalah Sanskrit formal yang hanya digunakan oleh ilmuwan, pemimpin agama, dan keluarga kerajaan. Sebuah bahasa yang memiliki kedudukan tinggi di society pengguna bahasa itu sendiri di zamannya dulu.

Lalu mengapa hal itu penting? Mengapa dengan diketahuinya bahwa Hindu adalah agama tertua menjadikannya hal yang penting? Bukankah akan lebih mudah mempelajari agama yang lebih muda untuk sebuah pencarian kebenaran yang hakiki bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini? Tentu saja hal ini menjadi persoalan yang pelik yang saya hadapi. Namun, ada sesuatu yang luar biasa di sini. Hal ini berawal dari sebuah pertanyaan, 'Mengapa agama tertua di bumi ini memiliki konsep yang sangat dalam dan sangat kuat? (yang bagi saya konsep ini adalah konsep yang benar). Mungkin kalau saja saya tidak menemukan kebenaran di sana, maka saya pun sudah akan menghentikan pembelajaran saya atas ajaran ini. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak masuk akal kalau kita berpatokan pada pelajaran sejarah yang diajarkan di bangku sekolah. Bagaimana mungkin manusia kuno (yang identik dengan keterbelakangan pengetahuan/ilmu) sudah bisa merumuskan suatu konsep yang sama benarnya dengan apa yang diajarkan di agama lain yang jauh lebih muda?

Tidakkah ini sebuah kenyataan yang misterius dan butuh perhatian lebih?
Maka saya pun mulai mencari. Dan temuan yang saya dapatkan dari buku-buku maupun film dokumenter memberikan alternatif berpikir baru.

Tidak ada yang tau kapan ajaran Hindu ini dimulai, siapa yang mengajarkannya pertama kali, Tidak ada keterangan bahwa adanya Nabi atau Rosul yang membawakan ajaran ini. Namun tidak sedikit orang sudah menemukan bukti-bukti peradaban kuno di tempat-tempat tertentu yang cukup luar biasa. Yaitu di dasar laut. Penemuan reruntuhan kota besar dan kompleks yang berukuran sebesar Manhattan di dasar laut beberapa mil dari Kota Dwarka, India Utara, menegaskan kepada kita bahwa pernah ada peradaban manusia yang sudah sangat maju di zaman dahulu kala, dimana kota tersebut masih di atas permukaan laut - permukaan laut masih rendah, yaitu sebelum zaman es berakhir. Penelitian melalui simulasi komputer memperlihatkan bahwa permukaan air laut serendah itu pernah tercapai adalah sekitar 12,000 tahun yang lalu. Dan melihat betapa besar dan kompleksnya sisa bangunan tersebut tentunya peradaban manusia harus sudah sangat maju untuk bisa membangunnya. Dan itu hanya bisa dicapai bila peradaban manusia sudah dimulai jauh lebih tua dari 12,000 tahun. Para peneliti menemukan fosil-fosil peralatan yang berumur 30,000 tahun, Sehingga ada kemungkinan kuat peradaban manusia telah dimulai jauh lebih tua lagi. Penemuan ini mendobrak ilmu main-stream yang menyatakan bahwa peradaban manusia baru dimulai sejak 5,000 tahun silam. Seharusnya penemuan-penemuan seperti penemuan kota Dwarka kuno bisa mendapatkan perhatian khusus dari komunitas itu. Saya sarankan anda melakukan pencarian sendiri berita mengenai penemuan kota-kota kuno yang mengungkap adanya bukti peradaban silam.

Peradaban kuno tersebut kemudian musnah karena adanya bencana besar. Pergeseran kerak bumi dalam semalam, yang menyebabkan gempa dan banjir besar, yang kemudian ditutup dengan mencairnya es di kutub yang menaikkan tinggi permukaan laut yang kita lihat sekarang ini. Inti dari ajaran tersebut selamat (survive) ke tangan masyarakat di sekitar lembah Indus, yang kemudian disebut sebagai "Hindu".

Nama "Hindu" sendiri dalam sejarahnya bukan nama asli dari agama ini. Nama ini diberikan oleh orang Inggris yang datang ke India, untuk membedakan antara masyarakat asli yang menempati lembah Indus dengan masyarakat pendatang.

Singkat cerita, semua ini sungguh membangkitkan rasa ingin tau, membuka mata, degupan kencang di dalam dada, berdebar seolah berhasil membuka pintu harta karun - kembali ke pertanyaan awal, 'mengapa pada agama tertua terdapat ajaran kuat?' - adalah bahwa pada masa itu manusia memang sudah mampu berpikir, berfilsafat, mengkaji, ditambah dengan ilmu fisika, matematika dan astronomi yang maju, untuk menyimpulkan sebuah ajaran terpadu akan kebenaran yang hakiki. Sebuah konsep kuat akan Tuhan.

Dan jika memang benar mengenai sejarah agama Hindu sudah dimulai sejak puluhan ribu tahun silam, maka bagi saya hal ini harus menjadi pedoman penting. Kita, manusia yang hidup di zaman (yang katanya) modern ini ternyata tidak lebih maju dari nenek moyang kita sendiri. Dan dalam pencarian kebenaran yang hakiki, kita harus "melanjutkan" apa yang pernah ada itu, dan bukanlah mencari yang baru dari nol.

Ini seperti membayangkan seorang anak kecil yang kesulitan menyelesaikan soal latihan matematika, kemudian ia menemukan buku usang di gudang tua di belakang rumah mengenai cara mudah menyelesaikan perhitungan matematika dasar. Dengan bantuan pengetahuan yang ada di dalam buku itu, sang anakpun berhasil menyelesaikan pekerjan rumahnya. Tidak hanya itu, ia juga mengerti dan paham. Lalu, secara logis dan naluriah, sang anak menyimpan buku itu sebagai pedoman belajar matematikanya. Siapa yang menulis buku tesebut? Tentunya buku itu ditulis oleh orang yang hidup jauh sebelum sang anak lahir, dan memiliki pengetahuan yang jauh lebih maju.



Sufism

"Aku mohon izin dan mukjizat Allah Yang Agung. Aku mohon kepada Allah yang berdiam dalam diriku, yang bertapa dalam raga badanku, yang menggerakkan seluruh anggota badanku. Aku mengakui tiada lain yang aku puja selain Allah yang ada di dalam diriku."

"Aku menyerahkan seluruh badanku, dilindungi dari segala bala', dilindungi dengan tirai mukjizat Allah. Dibukakan pintu ilmu. Ilmu yang nyata, yang bukti kuasa Allah."


Ajaran Sufi dipercaya sebagai ajaran inti Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang bersifat mistis. Serupa dengan inti ajaran Hindu.

Intisari dari ajaran Sufi ini adalah bahwa manusia dan semua ciptaan yang ada di alam ini adalah satu dalam Tuhan. Namun manusia telah lupa akan hal ini. Oleh karenanya manusia harus berusaha mengingat Tuhan dalam diri, bahwa aku dan Tuhan adalah Satu, dan Tuhan adalah realita yang hakiki. Zikr = pengingatan. Dengan menyebut nama Tuhan berulang-ulang dalam konsentrasi dan kepasrahan.

Tuhan adalah Yang tidak bernama namun memilki banyak sebutan, tidak bisa dijelaskan melalu metode apapun. Science dan Tuhan adalah satu. Ini adalah evolusi manusia selanjutnya. Sebuah Oneness, penyatuan. Semakin jauh manusia mengkaji science, ia akan menemukan Tuhan.

Ajaran Sufi disebut sebagai aliran Islam mistis, yaitu yang melakukan pencerahan ke kebenaran yang hakiki dengan membangkitkan Tuhan dan bertemu Tuhan di dalam diri. Alam tercipta dari cahaya yang pertama. Cahaya itu kekal dan cahaya itu selalu terpancar dari mereka yang ingat Tuhan di dalam diri.

Tidak ada apapun selain Tuhan itu sendiri.
Tuhan adalah aku, kamu, bumi, planet-planet, galaksi, dan seluruh alam. Tidak ada yang lainnya selain Tuhan. Di dalam medium Tuhan, kita semua eksis. Eksis di dalam ke-maya-an, ke-fana-an. Kita eksis sebagai manifestasi dari Tuhan. Kita eksis karena Tuhan berkehendak, maka kita ada.

Terlalu mistis untuk dijelaskan oleh science? Mungkin. Tapi menurut saya tidak. Sudah saya jelaskan dengan gamblang di tulisan-tulisan saya bahwa science berhasil mengintip keberadaan suatu zat yang Maha Satu. Tidak ada apapun selain Tuhan itu sendiri. Hanya Tuhan yang kekal. Tidak ada duality, tidak ada polarity. Semua yang ada di alam ini adalah maya atau fana. Yang real hanya satu. Tuhan. Penyatuan diri dengan Tuhan adalah ultimate goal. Tujuan yang sebenarnya.

Tuhan adalah Cinta. Hubungan manusia dengan Tuhan adalah cinta. Bukan seperti cinta antar manusia karena dasar emosional, tapi cinta yang berupa kepasrahan total. Kerelaan total. Rela meninggalkan semua yang fana dan karma. Totalitas mencintai Tuhan. Tidak ada yang lebih penting dari menjadi kekasih Tuhan. Pada akhirnya manusia akan bersatu dengan Tuhan.

"Science and God will become one. This is part of the next stage of human evolution."
"No one can explain God. Only God can explain God."
"Everything is God. God is the ultimate reality."




Cosmic Religion

Sangat mencengangkan bahwa ajaran Hindu (tertua) dan ajaran Islam melalui Sufi (termuda) memiliki konsep yang sama. Bagi saya ini teramat sangat mencerahkan, memberi kepastian hati, memberi motivasi, memberikan kehidupan ini sebuah arti yang sesungguhnya yang patut didalami dan dipelajari. This is the real meaning of our existence.
Tidakkah ini juga mencerahkan untuk anda? Saya harapkan demikian. Karena dengan alasan inilah saya menulis artikel ini.

Saya berkeyakinan bahwa di masa lalu, jauh sebelum apa yang diyakini para scholar formal mengenai sejarah peradaban manusia di bumi, adalah sebuah peradaban maju, dan adalah satu ajaran dengan cakupan menyeluruh tanpa menempatkan apapun di luar cakupannya. Ajaran yang meliputi Realita yang hakiki dan Realita yang maya. Sebuah ajaran tanpa banyak aturan dan hukum, tanpa bias, tanpa kias. Sebuah konsep langsung (direct).

Dan seharusnya konsep agung mengenai Tuhan ini mampu mempersatukan semua ajaran yang ada sekarang ke dalam satu ajaran tunggal. Peleburan paham, keyakinan, ke dalam satu paham Ketuhanan yang Tunggal. Jika kita percaya Tuhan itu satu, maka kita hanya butuh satu agama di bumi ini.

Peleburan ini adalah penyatuan antara kita dengan Tuhan. Dan ini hanya bisa dilakukan bila manusia tau dan sadar akan kebenaran yang hakiki, dan Realita yang hakiki. Penyatuan ini hanya bisa dicapai melalui cinta Tuhan, karena kemanapun kita memandang, ada Tuhan di situ. Pandang sesama makhluk dengan cinta pada Tuhan. Melepaskan seluruh ikatan badaniyahnya di kehidupan maya, memutus karma dan hanya berserah diri semata-mata untuk menyatu dengan Tuhan di dalam diri dan di seluruh alam, secara nyata.

Oneness adalah evolusi manusia selanjutnya. Dan ini sudah dimulai. Nantinya manusia tidak perlu agama. Karena manusia akan berada pada tingkat kesadaran baru. Kesadaran akan kebenaran yang hakiki.

Cosmic Religion is no religion. There is only God.


aku dan dia

Aku adalah dia - sebagai sosok ketiga. Dia adalah jasad yang mengurung aku yang sesungguhnya. Sesungguhnya aku di sini, juga di sana, dan dimana-mana. Essensi diriku adalah segenap alam semesta.

Dia hidup di alam semu, alam fana, alam maya, alam yang berupa kedok, tabir yang menutupi kebenaran yang sesunggunya, menutupi kebenaran yang hakiki. Namun dia harus hidup walaupun aku tau hanya sementara. Dia pun harus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di alam fana ini. Walaupun dia hidup di alam maya, tapi ia tetap harus berusaha untuk itu.

Maka aku sudah harus belajar menemukan arah yang benar, menuju kebenaran yang hakiki. Karena di kebenaran itulah tempatku yang sesungguhnya. Aku harus menyadari bahwa kesadaran yang ditempuh dari kefanaan adalah tidak nyata. Aku harus melihat dari 'mata' -ku yang sesungguhnya.
Ritme alam semesta sungguh indah, sungguh teratur dan semuanya menyatu dalam sebuah kebenaran yang hakiki. Lantunan melody alam yang sungguh mempesona ruhku. Maka kumulai menyanyikan sebentuk keindahan itu dengan kepasrahan menyeluruh.

Aku dan kamu adalah satu. Dan karena aku dan kamu adalah sama, maka aku memandang dirimu seperti diriku juga. Aku mencintai diriku dan mencintai dirimu. Seperti juga aku mencintai seluruh alam ini, yang meliputi keseluruhan medium Yang Maha.

Tuhan adalah satu bersamaku, bersamamu, bersama seluruh alam ini. Kupanggil namamu ketika aku memejamkan mata semuku, dan kulihat dirimu di dalam diriku.

We are made of light. The same light that created the entire universe with no exception. You should see the light. You radiate light every time you are closer to the ultimate reality. The light will reveal the ultimate truth. It is only you.

The light need no rule, no regulation, no exception. The light has no duality. The light only realises one ultimate reality, one ultimate truth of every existence. The light is the singular of All things.

Your body is a vessel. The light need no container. It has to be released if you have not realised it. But if you do, then you have to learn from it and exist as it.

aku dan dia adalah kamu, adalah Dia.

La illaha illallah, There is no God but God.
O M  Shanti  Shanti  Shanti

Apakah Yang Dimaksud Dengan Pencerahan dan Mencerahkan dari sisi energi

Tanya : Mas, bagaimanakah cara yang paling efektif serta cepat untuk dapat mencerahkan orang lain yah?
Jawab : Ini pemahaman saya tentang suatu proses pencerahan, bahwa, kadang saya malah justru heran dengan para orang yang sangat berambisi untuk "mencerahkan" para orang lain dengan segala macam cara, daya serta upaya, karena itu menandakan bahwa mereka tidak paham akan prinsip inti dari suatu proses pencerahan secara universal, yaitu tentang cahaya, tentang energi, dan, sesuai dengan prinsip korespondensi energi, bahwa para sosok yang memiliki surplus energi spiritual berpola kebaikan yang berlebih akan dapat memurnikan segala sesuatu di sekitar mereka dengan cepat, walaupun hanya dengan kehadiran mereka, walaupun mereka tidak mengucapkan banyak kata sekalipun. Cerahkanlah dirimu, maka, secara otomatis, segala sesuatu di sekitarmu akan tercerahkan, sesuai dengan karma yang mereka alami serta jalani. Itu prinsip inti serta universal yang saya pahami dari suatu proses pencerahan,



"Para orang suci, bahkan hanya dengan sentuhan mereka pun, segala sesuatu yang tak murni akan menjadi murni, para manusia yang tak layak untuk didekati (karena dosa dan keburukan mereka) akan menjadi layak untuk didekati, makanan yang tak layak dimakan akan menjadi layak dimakan. Hanya dengan sentuhan mereka pun, para kirata, para pendosa, orang jahat, para pulinda, para yavana, serta para orang liar, akan menjadi murni; siapa selain mereka di bumi ini yang lebih layak untuk dihormati? (karena mereka adalah para manusia yang paling layak untuk dihormati di bumi ini, yang dapat memurnikan bumi ini dengan kemurnian mereka)".
Semoga semua makhluk berbahagia, sejalan dengan amalan lelaku serta kebaikan yang telah mereka lakukan. 

Supaya anda paham mengenai kenapa masalah bisa selalu berdatangan dan bagaimana cara menemukan solusi atas masalah yang terjadi, maka anda bisa membaca artikel saya yang berikut ini : Penyebab terjadinya masalah dalam kehidupan

Brane Worlds


Pendahuluan

Sebuah buku menarik telah saya baca. “The Fabric of the Cosmos”. Sebuah komentar mengatakan “Another Hawking, only better” untuk sang penulis. Dialah Brian Greene dari Columbia University yang juga penulis “The Elegant Universe” yang menjadi best seller. Tidak hanya buku, sebuah tiga episode film berjudul sama, “The Elegant Universe” diproduski oleh NOVA dan PBS dan bisa di tonton online di internet. Bagi yang lebih menyukai menonton film ketimbang membaca buku, Film ini sangat bagus dan lebih mudah dimengerti. Rasa takjub saya kepada alam semesta bertambah dan membuat saya berpikir panjang.

Sempat saya angkat sedikit tulisan saya ke sebuah mailing list di internet, dan mendapatkan banyak tanggapan. Sungguh sebuah topik yang sangat serius dan menggugah siapa pun untuk ikut serta dalam diskusi panjang dan meluas hingga kepada agama.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari beberapa buku fisika yang saya baca namun saya berusaha untuk menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti dan berharap bisa menjadi sebuah referensi sederhana bagi siapa pun.


Fisika Klasik

Perjalanan kita dimulai dari sebuah kecelakaan di masa lampau yang menimpa kepala seorang pemikir terkenal. Sebuah apel jatuh dari pohonnya dan memberi ide kepada Isaac Newton. Ide apel yang jatuh ini merupakan awal popularitas gaya atau forsa (force) gravitasi yang diperkenalkan Newton. Forsa gravitasi-lah yang menyebabkan apel jatuh. Forsa ini pula lah yang menyebabkan planet melintas pada orbitnya mengelilingi matahari. Karya Isaac Newton mengenai forsa gravitasi dalam bukunya yang tekenal “Principia of Mathematica” masih digunakan orang hingga sekarang untuk meluncurkan roket mengelilingi bulan dan mengirimkan rover ke planet Mars.

Newton berhasil merubah pandangan orang. Gaya tarik-menarik yang tak terlihat itu bisa dihitung dan menjadi nyata dalam aplikasinya. Gravitasi adalah sebuah forsa fundamental di alam ini. Walaupun demikian Newton belum bisa menjawab apakah gravitasi tersebut.


Fisika Relativitas Umum

Dr. Albert Einstein
Dari sebuah kantor paten di Swiss, ilmuwan muda, Albert Einstein menyelidiki cahaya. Ia menemukan bahwa cahaya merambat dengan kecepatan sangat tinggi dan tidak ada satu obyek pun yang mampu bergerak melebihi kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya adalah konstan dan sama di mana saja di alam semesta ini. Einstein memperkenalkan kepada dunia sebuah konsep dan cara berpikir baru mengenai ruang-waktu.

Dalam menyelidiki ini, Einstein menemukan bahwa sebuah benda massif di alam semesta seperti bintang atau matahari kita, melengkungkan ruang. Anda bisa membayangkan sebuah bola bowling di atas permukaan trampoline. Karet trampoline melendut atau melengkung ke bawah karena massa bola bowling. Kemudian bila sebuah bola yang lebih kecil dan lebih ringan massanya, misal bola tennis, digelindingkan di samping bola bola bowling menyeberangi permukaan trampoline, maka lintasan bola tennis akan membelok dikarenakan permukaan karet trampoline yang melengkung. Einstein menemukan apa yang disebut forsa gravitasi.

Lintasan planet yang mengelilingi matahari sebenarnya adalah lintasan planet yang bergerak lurus namun terlengkungkan oleh ruang yang melengkung dikarenakan massa matahari di dekatnya.

Lalu apa yang terjadi bila tiba-tiba matahari lenyap? Menurut Newton, planet-planet akan kehilangan forsa gravitasi dari matahari dan seketika itu pula melanjutkan gerak lurusnya menjauh dari matahari. Ilustrasi yang benar namun tidak seluruhnya tepat. Einstein menambahkan bahwa cahaya memerlukan waktu 8 menit untuk mencapai bumi. Jika tiba-tiba matahari lenyap, maka kelengkungan ruang yang disebabkan massa matahari akan kembali ke kondisi ruang yang rata. Dengan kata lain anda bisa membayangkan permukaan trampoline yang menjadi rata kembali ketika bola bowling diangkat, atau permukaan air yang beriak kemudian tenang kembali. Sebuah riak gelombang terjadi dari pusat lokasi matahari. Gelombang forsa gravitasi ini merambat dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya. Sehingga Einstein mengemukakan bahwa planet bumi tidak akan langsung meninggalkan orbitnya sebelum 8 menit, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh forsa gravitasi untuk mencapai bumi dari matahari.

Einstein menerbitkan teori Relativitas Umum. Forsa gravitasi berhasil dijelaskan. Hingga kini, Relativitas umum merupakan teori yang mampu dengan baik menjelaskan pergerakan benda-benda massif di alam semesta seperti planet, matahari, dan galaksi. Teori relativitas menjelaskan alam semesta dalam ukuran besar. Einstein meyakini bahwa alam semesta berperilaku teratur seperti yang diamati dikarenakan mematuhui hukum-hukum fisika. “Tuhan tidak bermain dadu”, ucapnya.

Einstein membuka wawasan tentang bagimana orang seharusnya melihat ruang dan waktu. Ruang dan waktu bagaikan sebuah fabric atau lembaran kain yang membentang. Ruang-waktu dapat mengkerut, meregang, terpilin dan terdistorsi oleh medan gravitasi dari benda massif.


Fisika Quantum

Mulai dari sini tulisan saya akan lebih rumit untuk diikuti, saya pun menemukan kesulitan dalam menuliskannya. Kehadiran Einstein yang cemerlang dan teorinya yang memukau membangkitkan semangat seluruh fisikawan teoretis diseluruh dunia. Gagasan-gagasan baru diajukan dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada kesempatan ini saya hanya akan menyinggung yang penting-penting saja.

James Clerk Maxwell

Listrik (electricity) adalah sebuah forsa. Magnet juga febuah forsa. Orang menemukan bahwa listrik dan magnet adalah relevan, keduanya saling berpengaruh. James Clerk Maxwell berhasil menggabungkan kedua forsa tersebut menjadi sebuah forsa fundamental alam lainnya selain forsa gravitasi, yaitu forsa Electromagnetic (EM). Forsa EM dihasilkan oleh alam setiap saat, bahkan setiap partikel membawa muatan listrik yang mempengaruhi secara signifikan interaksi antar pertikel.

Maxwell mengirimkan sebuah paper kepada Einstein untuk dipublikasikan. Maxwell meyakini bahwa selain forsa gravitasi yang merambat pada dan melengkungkan ruang, forsa EM juga demikian, dan forsa EM memerlukan ruang untuk merambat. Tapi dimana? Untuk menjawab ini maka Maxwell mengusulkan sebuah dimensi ruang tambahan agar Forsa EM tersebut dapat merambat. Einstein menerima ide Maxwell ini. Diterimanya sebuah dimensi ruang tambahan adalah sebuah momentum awal manusia dalam mengkoreksi cara pandang terhadap alam. Lalu, dimana letak dimensi tambahan ini? Mengapa kita tidak melihatnya?

Ilmuan lain, Kaluza dan Klein mengusulkan bahwa dimensi extra itu sangat kecil. Bayangkan saja bila anda melihat sebuah kawat listrik dari jauh. Anda melihat kawat tersebut sangat kecil bagaikan sebuah tali yang memiliki panjang saja tanpa lebar. Namun bila kita melihat dari jarak yang sangat dekat, misalkan dari pandangan seekor semut, maka seekor semut itu dapat bergerak maju, mundur serta berputar ke kanan dan ke kiri di badan kawat listrik tersebut. Inilah dimensi extra yang tak tampak tesebut. Kaluza-Klein mengusulkan bahwa dimensi extra berukuran sangat kecil di setiap titik lokasi pada ruang. Karena terlalu kecil maka ia tak terlihat.

Einstein terinspirasi oleh forsa EM ini dan meyakini bahwa untuk mengerti alam ini secara fundamental maka forsa Gravitasi harus bisa disatukan dengan forsa EM. Sebuah penggabungan atau unification. Sejak saat itu seluruh hidupnya dihabiskan untuk menemukan sebuah rumusan tunggal yang mampu menjelaskan forsa gravitasi dan EM.

Sementara itu Neils Bohr memperkenalkan model atomnya yang diterima dengan baik, yaitu bahwa atom terdiri dari inti, inti terbentuk dari proton yang bermuatan positif dan neutron yang bermuatan netral, di sekitar inti mengorbit electron yang bermuatan negatif.

Di sinilah orang mulai berpikir pada semesta yang sangat kecil. Untuk mengerti perilaku alam semesta secara keseluruhan, maka orang harus mengerti interaksi antar partikel. Penelitian ini menghantarkan orang pada alam sub-atomic. Disinilah lahirnya fisika quantum.
Jika Teori Relativitas menjelaskan alam semesta dalam ukuran besar, maka fisika quantum menjelaskan alam semesta dalam ukuran sangat kecil.

Namun terjadi sebuah kontradiksi. Pada ukuran alam yang sangat kecil ini, gravitasi bagaikan tidak punya gigi. Maksudnya, forsa gravitasi tidak memiliki peran sama sekali dalam reaksi antar partikel. Malahan, fisikawan berhasil menemukan forsa fundamental lainnya, yaitu forsa nuklir Kuat (Strong Nuclear Force) yang merekatkan inti atom pada tempatnya, dan forsa nuklir lemah (Weak Nuclear Force) yang menyebabkan peluruhan atom atau radiasi.

Sejauh ini telah ditemukan seluruh forsa fundamental alam. Mereka adalah forsa gravitasi, forsa electromagnetic, forsa nuklir kuat dan forsa nuklir lemah. Ditinjau dari kekuatan energi-nya, maka forsa nuklir kuat adalah yang terkuat. Ini telah dibuktikan dengan dibuatnya bom atom. Peledakan bom atom adalah sebuah pelepasan energi forsa nuklir kuat yang disebabkan oleh pemisahan partikel pada inti atom. Pemecahan inti atom ini membuat luruhnya (radiasi) atom yang energi-nya (energi forsa nuklir lemah) masih dapat dideteksi hingga sekarang.

Forsa gravitasi adalah yang terlemah di antara ketiganya. Bila dibandingkan dengan forsa EM saja, maka forsa EM trilyunan kali lebih kuat. Forsa Gravitasi hanya dapat dirasakan pada benda-benda ber-massa sangat besar seperti planet dan bintang. Pada alam quantum, forsa gravitasi tidak memiliki pengaruh, karena kekuatan forsa ini terlalu kecil untuk diperhitungkan.

Sebuah dilema dan masalah serius bagi fisikawan. Unification mengalami kendala.

Pada kesempatan lain, Roger Penrose dan Stephen Hawking mendalami sebuah fenomena alam, yaitu keruntuhan bintang. Sebuah bintang dapat runtuh bila setiap partikel yang membentuknya kehilangan energi. Electron yang kehabisan energi akan jatuh ke inti atom. Ukuran atom mengkerut sangat signifikan sehingga ukuran bintang itu pun mengkerut ke ukuran yang sangat kecil. Namun demikian, forsa gravitasi tidak berubah. Singkatnya, pada ukuran yang sangat kecil ini, forsa gravitasi sangat kuat. Ruang terlengkungkan ke ukuran tak hingga.

Demikian kuatnya forsa gravitasi hingga cahaya pun tidak dapat lolos. Bila cahaya tidak dapat lolos, maka kita tidak mungkin bisa melihat bintang runtuh tersebut. Keberadaan bintang runtuh ini hanya dapat dilihat dengan memperhatikan daerah hitam gelap di langit yang memiliki gravitasi kuat. Oleh kerenanya bintang runtuh lebih sering disebut lubang hitam (black hole).

Cahaya, atau partikel cahaya yang disebut photon yang jatuh ke dalam lubang hitam tidak akan dapat lolos. Namun pada jarak tertentu dari inti lubang hitam dimana forsa gravitasi tidak terlalu kuat sehingga cahaya masih dapat bertahan untuk tidak jatuh namun terlalu lemah untuk bisa lolos, maka cahaya tersebut hanya dapat melayang-layang di situ. Jarak ini disebut horizon peristiwa (event horizon). Dinamakan demikian karena dipercayai jika cahaya berhenti bergerak, maka waktu setempat ikut berhenti.


Singularitas dan Penciptaan Alam Semesta

Saya rasa perlu untuk meninjau bahasan ini. Tujuan akhir fisika adalah untuk mengerti perilaku alam semesta, bagaimana terciptanya dan untuk apa diciptakan. Pertanyaan terakhir terdengar seperti keinginan manusia untuk mengerti pikiran Tuhan. Namun apabila memang Tuhan menciptakan alam ini dengan alasan khusus, maka jawabannya tentu saja dengan harus menjawab terlebih dahulu pertanyaan bagaiman alam semesta ini diciptakan.

Penrose memberi ide kepada Hawking mengenai asal-usul alam semesta. Ditambah dengan Sebuah pengamatan mengenai alam semesta yang mengembang, menyimpulkan bahwa suatu saat di masa lampau, alam semesta ini berukuran sangat kecil. Hawking menegaskan bahwa alam semesta ini berawal dari sebuah titik tunggal sangat kecil. Sebuah singularitas.

Singularitas berasal dari kata singular atau sebuah kondisi “tunggal”. Di titik awal terbentuknya ruang-waktu ini, seluruh forsa fundamental alam seharusnya masih berupa satu forsa tunggal. Kemudian seperti halnya ledakan bom nuklir, pecahnya sebuah forsa tunggal ini menjadi empat forsa alam menghasilkan ledakan yang Maha dahsyat, yang disebut “Big Bang”.

Big Bang adalah peristiwa penciptaan alam semesta ini. Sebuah peristiwa terpecahnya sebuah forsa tunggal menjadi 4 forsa fundamental.

Alam mengembang hingga sekarang dan membentuk bintang dan planet.

Penemuan lubang hitam bagaikan melihat Big Bang dari arah terbalik. Lubang hitam adalah singularitas. Maka untuk mengerti bagaimana alam semesta ini diciptakan, adalah dengan menggabungkan keempat forsa yang ada. Sampai hingga fase ini, manusia sudah berhasil menggabungkan forsa EM dengan forsa nuklir lemah menjadi forsa elektrolemah (Electroweak Force). Juga elektrolemah digabungkan dengan forsa nuklir kuat menghasilkan sebuah framework yang diyakini sebagai “model standard” (Standard Model) dari sebuah teori pamungkas yang mampu menjelaskan asal usul alam semesta dalam sebuah teori tunggal; “Teori Segala Hal”, atau ”Theory of Everything (TOE)”


Relativitas VS Quantum 

Lubang hitam adalah sebuah momok bagi fisika saat itu. Dikala mereka melupakan forsa gravitasi karena dinilai terlalu lemah, di depan mata mereka terpampang peristiwa nyata mengenai penyatuan forsa-forsa tersebut ke dalam sebuah singularitas. Bagaimana sebuah obyek berukuran tak-hingga kecilnya menghasilkan gravitasi begitu besarnya? Bagaimana menjelaskan mekanika lubang hitam ini?

Teori Relativitas tidak berlaku di alam berukuran quantum karena pada teori ini forsa gravitasi sangat berperan dan hanya melibatkan benda-benda besar. Teori fisika quantum mampu menjelaskan alam sangat kecil ini namun ia tidak bisa melibatkan forsa gravitasi.

Kesimpulannya, fisika runtuh di lubang hitam. Benar-benar sebuah lubang hitam yang sangat gelap karena tidak ada satu pun perangkat ilmu yang mampu menjelaskannya.


Strings Theory

Agak kembali sedikit ke masa lampau, saat hampir semua fisikawan berbondong-bondong menyelidiki fisika quantum, ada sebagian kecil, mungkin boleh dikatakan, satu atau dua orang saja yang tersisa dari seluruh ilmuwan yang ada di dunia ini yang tidak mengikuti jejak rekan-rekan yang lainnya.

Saat semua orang beranggapan bahwa wujud atom dan partikel berbentuk menyerupai titik atau bola, maka sebagian kecil ilmuwan ini menemukan kemungkinan lain dari persamaan matematis yang membawa mereka pada ide liar bahwa kesalahan fisika selama ini terletak pada ‘bentuk’. Kita telah keliru memandang partikel berbentuk bola. Mereka menemukan bahwa pertikel berbentuk tali atau string.

Lalu apa implikasinya jika pertikel fundamental berbentuk string?

String berukuran sangat kecil, yaitu berjuta-juta kali lebih kecil dari quark. Untuk membayangkan ukuran string yang sangat kecil ini, bayangkanlah bila sebuah atom adalah tata surya kita, maka sebuah string berukuran sebuah pohon di bumi. String super kecil ini yang saking kecilnya dianggap hanya memiliki panjang saja (satu dimensi-ruang) bergetar dan variasi getarannya itulah yang menghasilkan apa yang kita amati sebagai partikel-partikel. Para pengusung teori string ini mengatakan bahwa string adalah satu-satu nya bahan dasar pembentuk ruang dan waktu. Yang kita amati sebagai beraneka ragam partikel itu sebenarnya adalah hasil variasi getar string-string yang sama.

Dengan demikian maka perhitungan atau persamaan matematikanya menjadi berubah sama sekali. Alam fisika quantum yang tadinya mengabaikan forsa gravitasi sekarang dapat menerima forsa gravitasi tersebut sebagai bagian dari persamaan matematisnya. Atau boleh dikatakan telah ditemukan forsa gravitasi di alam quantum. Fisika relativitas dan fisika quantum berhasil disatukan. Teori string diduga kuat sebagai teori pamungkas yang dicari, sebuah teori tunggal yang mampu menjelaskan perilaku alam semesta ini; sebuah teori segala hal.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana forsa gravitasi ditemukan dalam persamaan matematika fisika quantum? Untuk menyinggung ini, perlu kita kilas balik sedikit sekelumit sejarah panjang perkembangan teori string.

Teori string tidak terjadi dalam semalam saja. Diawali di tahun 1968, oleh seorang fisikawan muda asal Italy, Gabriele Veneziano, sekarang bekerja untuk CERN, yang mempelajari persamaan matematis yang menjelaskan forsa nuklir kuat. Ditemukannya persamaan ini membuka jalan pada penelitian forsa tersembunyi di inti atom. Kemudian penelitian menggugah ilmuwan lainnya, Leonard Suskind dari Stanford University yang melihat bahwa persamaan tersebut mengindikasikan sesuatu yang tersembunyi, sebuah partikel yang memiliki struktur internal yang bisa melendut dan meregang. Partikel ini bukan berbentuk titik atau bola, namun berbentuk string yang secara alami bergerak lentur. Temuannya ini sempat tidak mendapat tanggapan dari fisikawan lainnya.

 
John H. Schwarz dan Michael B. Green (Pictures from NOVA)

Adalah seorang fisikawan yang melanjutkan penelitian mengenai string ini, di tahun 1973, yaitu John H. Schwarz dari California Institute of Technology, mengemukakan bahwa jika string ini benar, maka string akan mampu menjelaskan banyak misteri alam ini. Schwarz berhasil menarik perhatian para ilmuwan dunia dan orang mulai banyak bergabung mendalami teori radikal ini.

Namun teori string mengalami kendala besar. Yaitu terdapat beberapa anomali pada perhitungan atau persamaan matematisnya. Pertama, teori string melibatkan sebuah partikel bermassa nol dan partikel tachyon, yaitu partikel yang bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya. Telah disinggung sebelumnya bahwa Teori Relativitas tidak membenarkan adanya obyek yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Teori string sekali lagi nyaris turun pamor.

Michael B. Green dari Cambridge University bergabung dengan Schwarz untuk mengkaji dan membedah persamaan matematis teori string ini lebih dalam. Di tahun 1984 Mereka berhasil meniadakan anomali tersebut. Mereka menemukan bahwa partikel aneh yang menjadi momok teori ini sebenarnya adalah “graviton” yaitu partikel untuk forsa gravitasi. Peristiwa sangat bersejarah ini dikenal sebagai salah satu yang menggemparkan dunia. Schwarz dan Green menemukan forsa gravitasi dalam persamaan mereka. Mereka berhasil gemilang meniadakan anomali.

Lebih banyak lagi orang ikut bergabung melanjutkan perjuangan Schwarz dan Green hingga kemudian sebuah kendala besar dihadapi mereka kembali, yaitu:

  1. Teori string melibatkan dimensi extra.
    Seperti yang kita kenali bersama bahwa kita hidup di alam dengan 3 dimensi-ruang yaitu panjang, lebar, dan tinggi ditambah 1 dimensi waktu menjadikan total = 4 dimensi ruang-waktu. Namun string harus bergerak di lebih dari 3 dimensi ruang itu. String harus bergerak di 9 dimensi ruang. Sehingga menurut teori string, alam yang kita tempati ini sebenarnya memiliki 10 dimensi ruang waktu.

    Lalu dimana ke-enam dimensi ruang lainnya? Mengapa kita tidak bisa melihat atau merasakannya? Sekali lagi Kaluza dan Klein mengajukan bahwa 6 dimensi ruang ini berukuran sangat kecil sehingga tidak bisa teramati.

    Namun kemudian orang mulai menerima kehadiran dimensi ektra ini karena memang HARUS ada dimensi extra di alam ini bagi string untuk wujud. Dimensi extra adalah sebuah temuan fenomenal.
     
  2. Terdapat 5 teori string.
    Ini merupakan masalah besar. Bagaimana sebuah teori segala hal hadir dalam 5 variasi? Setiap teori sama-sama benar namun memiliki perbedaan mendasar pada persamaan matematisnya.


Strings / M-Theory

Edward Witten (Picture from NOVA)
Barulah Pada tahun 1995, pada konvensi fisika sedunia, seorang fisikawan yang kemudian menjadi sangat terkenal, yaitu Edward Witten, dari Institute for Advance Study, mempublikasikan papernya. Edward Witten dijuluki sebagai orang tercerdas di planet bumi ini dan mendapat julukan “the true successor of Einstein”, ia berhasil menggabungkan ke-lima teori string menjadi sebuah teori tunggal yaitu M-Theory.

Witten mengemukakan bahwa kelima teori string itu sebenarnya hanyalah ragam cara melihat suatu hal yang sama. Kita bagaikan berada dalam ruangan gelap gulita dan saling meraba seekor gajah yang sama di depan kita. Sebagian meraba kepalanya, sebagian meraba kakinya, sebagian meraba belalainya dan sebagian meraba badannya, begitu Edward Witten memberikan penerangan di dalam ruangan, barulah orang menyadari bahwa sebenarnya mereka semua meraba seekor gajah yang sama.

Penerangan yang dibawa oleh Witten dalam M-Theory nya ini adalah dengan menghadirkan sebuah dimensi ruang tambahan ke dalam hitungan matematis teori string. Seluruh persamaan menjadi klop dan semuanya mejadi masuk akal. Kini alam kita diyakini oleh string/M-theory memiliki 10 dimensi ruang menjadikannya total 11 dimensi ruang-waktu.

Edward Witten tidak menyebutkan kepanjangan dari “M” itu.


Braneworlds 

M-theory mengemukakan bahwa:

  1. String merupakan tali super kecil yang memiliki panjang saja (1 dimensi) dengan kedua ujungnya terbuka (open loop).
  2. Terdapat string yang melar hinga memiliki panjang dan lebar (2-dimensi), membentuk membrane (disingkat, “brane”) atau sebuah lembaran super tipis. Kita sebut ini sebagai 2-brane. Sedangkan string 1 dimensi disebut dengan 1-brane.
  3. Kedua ujung string 1-brane harus melekat / bertumpu pada 2-brane.
Perbedaan signifikan terjadi setelah hadirnya M-Theory adalah bahwa orang mulai meninggalkan gambaran dimensi extra yang terpilin sangat kecil itu. M-Theory memberi gambaran pada kemungkinan yang berlawanan, yaitu bahwa dimensi-ruang extra itu berukuran sangat besar. Kita mungkin hidup di alam semesta 3 diemensi-ruang yang berada di dalam sebuah dimensi-ruang yang lebih besar lagi. Bahwa alam semesta kita berupa membrane 3 dimensi ruang atau 3-brane, dan alam 3-brane kita berada di dalam alam berdimensi lebih tinggi – yaitu alam 4 dimensi-ruang atau 4-brane.

Agar lebih mudah mengerti konsep membrane ini, bayangkanlah bahwa layar televisi anda adalah sebuah dunia dua dimensi. Pemain film di dalam televisi hidup di alam dengan 2 dimensi-ruang saja (hanya memiliki dimensi panjang dan lebar) mereka tidak memiliki dimensi ruang ke-tiga. Mereka tidak tau dan tidak menyadarinya. Jarak antara mata anda ke layar televisi adalah sebuah dimensi-ruang ke-tiga yang tidak dimiliki alam dalam televisi itu. Atau boleh saya dikatakan bahwa untuk menemukan dimensi extra, maka makhluk yang hidup di dimensi layar televisi harus keluar dari layar televisi tersebut.

Sampai tahap ini apakah anda sudah bisa membayangkannya? Sekarang coba bayangkan alam semesta kita adalah layar televisi tersebut. Televisi dengan 3 dimensi ruang. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu adalah dimensi ruang ke-empat yang tidak dimiliki oleh alam kita. Alam di luar alam kita adalah sebuah alam semesta yang memiliki 4 dimensi-ruang.

Sekarang bayangkan bila alam semesta dengan 4 dimensi-ruang itu adalah sebuah layar televisi. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu adalah dimensi ruang ke-lima yang tidak dimiliki oleh alam 4 dimensi-ruang.

Demikian seterusnya.

Marilah kita lanjutkan membayangkan dengan cara yang sama ke alam semesta kita.

Alam semesta kita yaitu 3-brane berada di membrane yang lebih tinggi; 4 brane. Atau boleh saya katakan alam 3-brane kita dibungkus oleh alam 4-brane. M-Theory mengatakan bahwa alam 3-brane kita memiliki kemungkinan exist berdampingan dengan alam 3-brane lainnya (parallel universe). Ada berapa banyak parallel universe? Tidak ada yang tau.

Lalu dimana dimensi 5, 6, 7, 8, 9, dan 10?
Mari kita lanjutkan lagi membayangkannya. Bila alam 3-brane dibungkus alam 4-brane, maka:
Alam 3-brane dibungkus oleh alam 4-brane (lapis 1)
Alam 4-brane dibungkus oleh alam 5-brane (lapis 2)
Alam 5-brane dibungkus oleh alam 6-brane (lapis 3)
Alam 6-brane dibungkus oleh alam 7-brane (lapis 4)
Alam 7-brane dibungkus oleh alam 8-brane (lapis 5)
Alam 8-brane dibungkus oleh alam 9-brane (lapis 6)
Alam 9-brane dibungkus oleh alam 10-brane (lapis 7)

Alam semesta kita dibungkus oleh alam lainnya yang berdimensi-ruang lebih tinggi. Dan di setiap membrane terdapat parallel universe.

String terbuka (opened-loop string) yang kedua ujungnya tertambat pada membrane. (Picture from NOVA)


Graviton 

M-Theory diterima luas sebagai teori elegan dengan keindahan matematika tingkat tinggi. Inilah sebuah wujud pencapaian peradaban manusia terkini.

Untuk melengkapi pemaparan saya, saya akan singgung sedikit lagi kelanjutan atau perkembangan dari teori ini.

String tertutup (closed-loop string) (Picture from NOVA) 
String dipercaya memiliki bentuk open-loop atau kedua ujungnya terbuka dan menumpu pada membrane lain. Namun diyakini ada pula string dengan ujungya saling bertautan (besambung) sehingga membentuk closed-loop. Dengan ujung yang tidak bebas ini maka string jenis ini tidak bisa bertumpu pada membrane. Jenis string seperti ini bebas melayang ke ruang mana saja dan menyebrang ke membrane lain. String dengan closed-loop ini adalah Graviton.

Masih ingat forsa gravitasi yang dianggap paling lemah diantara forsa yang lainnya? Dengan sifat graviton yang bebas itu maka forsa gravitasi sesungguhnya sangat kuat, bahkan mungkin sama kuatnya dengan forsa Electromagnetic. Ia tampak lemah karena sebagian kekuatan forsa gravitasi mampu menyebrang ke brane lainnya dengan bebas.

Graviton adalah satu-satunya partikel saat ini yang diyakini bebas bergerak menyebrang ke membrane lainnya. Forsa lainnya tidak bisa meninggalkan suatu membrane. Sehingga tidak mungkin kita bisa melihat alam brane lain atau parallel universe karena cahaya tidak dapat keluar dari membrane. Forsa nuklir kuat, forsa nuklir lemah, Electromagnetic dan cahaya terperangkap di dalam sebuah membrane.

Satu hal yang menjadi perhatian dunia adalah membuktikan keberadaan string melalui percobaan laboratorium. String adalah teori elegan yang belum terbukti melalui experimen. Namun dengan syarat yang ditentukan oleh teori ini sendiri, terbuka peluang untuk membuktikannya dan upaya pembuktian ini menjadi prioritas utama. Antara lain adalah sedang berjalannya usaha bersama antara Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan California Intitute of Technology (CIT) dan didanai oleh The National Science Foundation membangun sebuah Observatory raksasa yang bukan berbasis cahaya maupun radio, melainkan berbasis forsa gravitasi. Harapannya adalah terdeteksinya graviton yang muncul semerta-merta membawa signature dari alam semesta membrane lain. Wahana ini dinamakan Laser Interferometer Gravitational Wave Observatory (LIGO). Juga direncanakan untuk dibangun Versi luar angaksa dari LIGO, adalah Laser Interferometer Space Antenna (LISA).

Ilustrasi Graviton bergerak meninggalkan membrane (picture source: NOVA)

Usaha lainnya sedang dilakukan Fermilab, sebuah laboratorium di Illinois yang memiliki atom smasher, yaitu sebuah Akselerator Partikel yang berfungsi untuk mempercepat inti atom hydrogen dalam suatu lintasan sepanjang 4 mil untuk kemudian ditabrakkan dengan inti atom Hydrogen lain ujung lintasan. Inti atom yang ditabrakkan akan terpecah dan menghasilkan siraman partikel-partikel yang lebih kecil. Sebelum M-Theory, ilmuwan hanya berusaha mengindentifikasi siraman partikel-partikel baru tersebut, namun kali ini mereka berusaha mendeteksi partikel graviton yang muncul saat terjadi tabrakan. Namun graviton akan muncul hanya sekejap karena graviton yang berdiri sendiri akan langsung menyeberang ke membrane lain. Graviton yang muncul dan hilang hanya dalam sekejap ini tidak akan memberi kesempatan pengamat untuk mendeteksinya. Untuk mengatasi ini maka pendeteksian graviton ditandai dengan absen-nya partikel tersebut sesaat setelah tabrakan.

Fermilab (Picture source: NOVA)

Hal serupa akan disusul oleh sebuah atom smasher raksasa yang sedang dalam tahap pembangunan yang memiliki kekuatan 7 kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki Fermilab. Atom smasher dan Akselerator Partikel raksasa ini adalah milik CERN, Swiss.

Large Hadron Collider (LHC) milik CERN, akselerator partikel terbesar di dunia
(Picture source: NOVA)

Jutaan dollar telah dikeluarkan untuk pembangunan alat-alat raksasa tersebut dan mereka saling berlomba sebagai yang pertama kali menemukan graviton. Jika graviton ditemukan, maka teori string kukuh dan benar dengan seluruh impllikasinya; braneworlds yang meggambarkan alam semesta kita ini berlapis dengan 11 dimensi ruang-waktu adalah benar. Dan alam semesta ini bisa terjelaskan dengan sebuah teori tunggal, “Theory of Everything”.

Membranes (Picture from NOVA)

Zero-Brane

Perkembangan lain dari String/M-Theory adalah munculnya sekelompok ilmuwan yang menemukan kejanggalan atas statement bahwa string adalah satu-satunya ingredient atau bahan dasar pembentuk ruang dan waktu. Pertanyaan mereka adalah, jika string perlu ruang dan waktu untuk bergetar dan bergerak, bagaiman bisa mereka dinobati sebagai bahan dasar pembentuk ruang-waktu?

Jikapun harus ada bahan dasar yang paling fundamental yang membentuk ruang-waktu, maka entity ini haruslah tidak terikat oleh ruang-waktu, atau space-less and time-less entity . Entity semacam ini tidak mungkin berbentuk string, melainkan sebuah titik tanpa dimensi atau berdimensi nol; Zero-Brane Entity. Usulan ini patut mendapat perhatian karena usulan ini meng-klaim bahwa string bukanlah bahan fundamental pembentuk ruang waktu.

Zero-Brane yang berbentuk titik tanpa dimensi ini haruslah teratur menandai setiap titik pada ruang namun tidak terikat oleh ruang. Titik-titik teratur bagai grid. Teori ini dikenal sebagai Matrix Theory. “M” sebagai “Matrix” dari M-theory.


Kesimpulan 

Sampailah saya pada bab kesimpulan yang saya persiapkan untuk menyimpulkan serta memberi pendapat atau usulan kepada pembaca sebagai bahan pemikiran dan diskusi.

Dulu Stephen Hawking pernah bertanya, jika ruang dan waktu akan hancur suatu saat nanti dalam sebuah kehancuran besar atau Big Crunch maka dimana letak Tuhan? Hawking mendapat julukan atheis (tidak percaya Tuhan). Namun saya pun pernah menanyakan hal serupa. Seorang teman memperingatkan saya agar berhati-hati dan menghindari diri dari kekafiran. Tapi saya yakin kita adalah manusia ciptaan Tuhan yang diberi karunia otak yang berkemampuan mempertanyakan pertanyaan tersebut. Lalu kenapa harus jadi kafir karenanya?

Keyakinan dan rasa ingin tau saya, saya salurkan dengan mempelajari ilmu-ilmu kebatinan, fisika, serta melakukan wawancara kepada beberapa pemuka agama. Kesimpulan yang saya dapat adalah yang tertuang di dalam tulisan saya ini.

Orang mengatakan bahwa Tuhan itu lebih besar dari alam semesta ini. Ia tidak mungkin hancur oleh ciptaanNya sendiri. Benar! Saya setuju, lalu tentunya ada penjelasan logis yang menempatkan Tuhan di posisi yang Maha Besar itu.

Di alam semesta yang kita tempati ini, kita hidup di sebuah planet bernama bumi. Bumi dan planet-planet lannya mengorbit mengelilingi matahari. Ini sebuah tata-surya. Tata surya kita ini adalah satu dari milyaran tata surya lain dalam sebuah galaksi yang bernama bima sakti. Galaksi Bima sakti adalah satu dari milyaran galaksi lain dalam sebuah cluster galaksi. Dan cluster galaksi tersebut merupakan satu dari milyaran cluster galaksi lainnya. Seluas itulah alam semesta kita. Dan Bumi bagai sebuah debu yang sangat kecil. Perjalanan ilmu pengetahuan manusia telah melawati tapal batas alam semesta ini dan sekarang sedang berusaha menyeberang ke alam semesta lainnya yang berdimensi lebih.

Mampukah manusia menembus hingga 10-braneworlds (alam semesta paling tertinggi)? Apakah kita akan menemukan Tuhan di sana?

Ada ketentuan yang telah saya singgung di atas; Tuhan tidak mungkin terbelenggu oleh ciptaanNya sendiri. Tuhan tidak mungkin berada di dalam salah satu-pun ruang membrane/braneworlds. Tuhan tentunya juga tidak mungkin terikat oleh “waktu” yang diciptakannya sendiri. Tuhan adalah sebuah entity yang terbebas dari ruang dan waktu. Tuhan pastilah menguasai sebuah realm dimana ruang dan waktu tidak relevant; The Zero-Brane Entity.


Lain-lain

Ide untuk kajian-kajian lain memenuhi kepala saya saat itu, seperti; Bagaimana manusia bisa menyeberang ke alam brane lain sedangkan cahaya saja tidak mampu menembusnya? Bagaimana Malaikat hilir mudik dengan mudahnya dari satu brane ke brane yang lainnya Seberapa kuasanyakah manusia untuk bisa menguasai itu semua?

Dibawah ini adalah hasil diskusi saya bersama rekan-rekan saya;

Tidak ada partikel yang mampu pergi ke alam brane lain selain graviton. Bilapun mungkin ada partikel lain yang memiliki string tertutup (closed-loop), saat ini kita tidak mengetahuinya. Tapi katakanlah demikian, maka untuk bisa menyeberang ke alam brane lain adalah dengan cara membungkus diri kita dengan graviton. Teman saya memberi ide mungkin kita harus berubah wujud dulu menjadi suatu zat dengan string tertutup, barulah kita bisa pergi ke brane lain. Atau mungkin zat inilah yang disebut sebagai ruh? Ruh adalah sebuah zat dengan string tertutup? Ini berarti bahwa untuk pergi ke brane lain kita harus mati dulu?

Yang terbayangkan, entity dengan dimensi lebih sedikit (misalkan alam 3 dimensi-ruang kita), bila pergi ke alam yang berdimensi lebih banyak (misal alam berdimensi-ruang 4) akan kekurangan substance dan tidak akan berwujud di alam tersebut. Seperti cara membayangkan alam di dalam televisi yang orang di dalamnya keluar ke alam 3 dimensi, maka bagaimana bentuk orang yang hanya memiliki 2 dimensi itu berada di alam 3 dimensi ini?. Kita bisa bayangkan ia hanya akan berwujud lembaran sangat tipis dan tidak mungkin bisa exist di alam ini.

Begitu pula kita apabila ingin pergi ke alam brane lain yang lebih tinggi, maka tidak mungkin kita pergi utuh dengan jasad kita seperti apa adanya. Maka usulan yang terdengar paling tepat adalah dengan berubah wujud terlebih dulu menjadi zat yang mampu exist di alam brane manapun.

Dan katakanlah kita mampu berubah wujud menjadi zat netral tersebut, apakah kita masih bisa pergi ke Zero-Brane? Tidak. Mengapa? Karena zat kita itu akan masih memerlukan ruang dan waktu untuk exist.

Saya meyakini bila manusia menguasai braneworlds, maka manusia menguasai dan menyatu dengan alam. Pada tingkat kedewasaan seperti ini, seharusnya tingkat kebijaksanaan manusia sudah mencapai kesempurnaan yang diperlukan untuk bersatu dengan alam ini di semua tingkat brane. Tidak ada lagi dinding pemisah antara yang fisik dan yang metafisik. Manusia akan mampu mendengar tawa bintang, tangisan pohon, serta percakapan semut termasuk keluhan batu-batuan. Manusia akan memimpin alam ini secara total.

Saya tutup tulisan saya sampai disini. Semoga bisa terbangkitkan rasa ingin tau anda dan ikut mencari penjelasan atas kebenaran-kebenaran itu menurut cara anda sendiri.

Apakah Yang dimaksud dengan Realitas

What is Real?

Saya menghirup udara yang mengandung oksigen dan berbagai macam unsur lain melalui hidung saya. Saya merasakan udara masuk melalui hidung ke paru-paru. Inilah 'real'. Udara adalah sesuatu yang 'real'.

Saya menyentuh dan melihat sebuah benda di depan saya, sekuntum bunga mawar berwarna merah yang mekar sangat indah menyejukkan hati yang memandangnya. Bunga mawar adalah 'real'.

Sesuatu yang tajam menusuk kulit saya. Sebuah jarum terinjak oleh kaki saya dan menusuk kaki. Sakit. Jarum adalah 'real'.

Dari contoh peristiwa di atas, "Reality" atau "Nyata" dapat disimpulkan sebagai segala sesuatu yang di pindai oleh indera tubuh kita, penglihatah, penciuman, raba, rasa, dan yang kita dengar, yang kemudian diteruskan oleh jaringan syaraf ke otak. Otak akan menterjemahkan hasil pindai tersebut dan membentuk suatu kesimpulan mengenai apa yang dipindai tubuh kita.



Otak mencari referensi di dalam bagian lain dari otak untuk menemukan jawaban yang tepat dari yang diterim oleh panca indera kita. Seperti membayangkan sistem komputer. Query diterima oleh komputer berupa sebuah parameter yang merujuk pada sebuah data. Komputer kemudian mencari di database; data mana yang cocok untuk parameter yang diminta. Setelah data ditemukan, komputer akan menampilkannya pada layar.

Jika A = Apel, maka bila seseorang melakukan query "A", komputer akan menampilkan "Apple".

Begitulah singkatnya. Otak kita memiliki prinsip kerja yang mirip dengan dengan komputer. Otak menampilkan apa yang ada di dalam database. Jika seseorang melakukan query "B", maka komputer tidak bisa menjawabnya oleh karena "B" belum ada di dalam database.

Lalu bagaimana bila dihadapan kita terdapat sebuah obyek yang belum pernah kita lihat sebelumnya? Otak kita akan berusaha menemukan jawaban yang paling cocok untuk benda tersebut. Sehingga kita akan berkata, "benda itu terlihat seperti lampu mobil" karena benda yang ada di hadapan kita memancarakan dua buah cahaya berjarak tentu dengan posisi sejajar. Walaupun misalnya dalam keadaan gelap kita tidak bisa melihat bentuk keseluruhan benda itu, tetapi kita mencoba mencocokkannya dengan sebuah benda; mobil.

Lalu, manakah yang 'real'? apakah mobil itu real/nyata berada di depan kita? atau hanya cahaya nya saja yang real?. Dalam contoh di atas kita tidak tau sama sekali apakah benda itu mobil atau bukan, menjadikan mobil tersebut bukan sesuatu yang "real'. Yang real adalah cahaya-nya. Karena hanya cahayanya sajalah yang dapat ditangkap oleh indera kita. Sedangkan mobil hanyalah rekaan atau imajinasi saja.

Pada contoh di atas, "cahaya" adalah kata-kuncinya.

Lalu bagaimana bila jika dalam keadaan gelap gulita, dua buah cahaya yang sejajar tersebut tidak lagi memancarkan cahayanya sehingga tidak ada satupun petunjuk yang sampai ke indera kita. Apakah benda itu real atau tidak real?

Contoh sangat sederhana di atas memberikan pengertian yang jelas mengenai apakah "real/nyata" itu. Manusia tidak akan mengetahui apa pun yang tidak tertangkap oleh inderanya, juga bila tidak ada di dalam database otak; sebuah obyek yang belum pernah ada sebelumnya belum tentu langsung dapat terlihat dan dianggap real oleh kita. Dengan berlandaskan pada defisnisi ini, maka sesungguhnya cakupan realitas manusia sungguh terbatas. Manusia terperangkap dalam realita yang dibatasi oleh kondisi fisik. Di luar itu, apa pun selebihnya dianggap tidak-real. Kalaupun harus 'real', maka itu hanyalah sebuah keyakinan atau "faith" semata.

Apakah malaikat dan jin adalah real? apakah Allah real?
Apakah anda bersama saya mempertanyakan itu?

Semakin maju peradaban manusia dan semakin terbukanya pola pikir, pertanyaan yang sangat mendasar itu mulai muncul. Satu kelompok mengatakan bahwa pertanyaan semacam itu adalah tabu. Sedangkan kelompok lainnya cukup berani mempertanyakannya. Termasuk kelompok yang manakah anda?

Terdapat sekelompok lainnya yang (mungkin) tidak merasa perlu mempertanyakan hal itu, namun mereka memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi untuk menjawab pertanyaan, "dari mana asal alam semesta ini? bagaimana terbentuknya? apakah ada awal dan ada akhir-nya?". Mereka adalah sekelompok ilmuwan fisika yang (menurut saya) berada di suatu perjalanan suci mencari kebenaran atau "realitas" yang hakiki mengenai manusia dan alam semesta.

Para ilmuwan fisika telah sampai pada sebuah teori yang hampir tidak bisa dibuktikan sama sekali kebenarannya, namun teori-teori tersebut sangat cocok pada implementasi dan perhitungan-perhitungan lainnya. Teori rumit dan dalam yang mendukung teori lainnya yang lebih dulu dan sederhana, yang mana teori terdahulu tersebut sangat cocok dengan pengamatan. Lalu apakah toeri itu real? apakah teori itu harus bisa diuji di dalam laboratorium untuk menjadi 'real'?

"Ya, jika sebuah teori tidak bisa dibuktikan melalui laboratorium atau observasi, maka ia bukan ilmu fisika, melainkan filosofi." Begitu para ilmuwan fisika berkata.

Atau mungkin deifinisi "laboratorium" perlu dikaji ulang. Apakah yang real itu semata-mata harus bisa terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, tercium oleh hidung, terasa oleh lidah, dan teraba oleh kulit? Seperti sudah saya singgung sebelumnya, jika manusia hanya mengandalkan indera fisik saja, maka manusia akan selalu terkurung dan terbatasi oleh dinding itu.

Dari sinilah para fisikawan menemukan indera lain dari manusia untuk mengkaji realita, yaitu dengan matematika. Dengan melakukan perumusan matematis, persamaan matematis digunakan untuk menguji kebenaran sebuah hipotesa. Persamaan tersebut kemudian diterima sebagai teori yang baik bila ia mempu mendukung teori terdahulu yang berkesesuaian dengan percobaan laboratorum dan astronomi. Rupanya para ilmuwan fisika menghadapi banyak kendala dalam perhitungannya. Matematika saat itu tidak mampu membantu mereka untuk menyelesaikan persamaan yang sangat kompleks, maka mereka harus menemukan khasanah matematika baru yang mampu menyelesaikan persamaan rumit itu.

Di atas kertas, string harus bergerak di lebih dari 3 dimensi-ruang saja. Persamaan matematis mengharuskan adanya 10 dimensi-ruang untuk string bisa eksis. Konsekuensinya bagaikan science-fiction; parallel universe, membrane, dll. Apakah semua itu real? Atau apakah kita akan tetap menganggap teori string adalah science fiction hanya karena indera manusia yang terbatas ini tidak mampu menerimanya?

Oleh karenanya saya selalu berpendapat bahwa "Human's final frontier is the human itself'. Manusia memiliki dinding pembatas yang harus ditembus untuk mampu menerima lebih dari batasan itu. Di dalam dinding, semua adalah "real", sedangkan di luar dinding, bukan real. Itu yang terjadi sekarang.

Jadi, Apakah Allah real?
Anda pasti akan berusaha menjawab "Ya, tentu saja". Tapi saya yakin anda menjawab itu karena doktrin agama yang sudah menahun dan turun-temurun dari leluhur anda. Bila saya tanya, "Buktikan bahwa Allah real". Jawaban apa yang anda persiapkan untuk saya?

Jangan salah paham. Allah adalah real untuk saya. Apakah Ia juga real untuk anda?

So what is real?
Is it your real? my real? Religions' real?

Is there a "true" real? what is it?


Allah is real. Real is Allah.

-------------------

Dalam kesempatan lain saya mengingat dan kemudian mencoba melirik kembali sebuah ajaran tua, Hinduism. menurut saya ajaran ini adalah yang paling misterius. Tidak ada yang tau asal usul serta kapan pertama kali ajaran ini diperkenalkan. Kosep "Reality" pada ajaran Hindu sebagian mirip dengan apa yang saya paparkan di atas. Hindu telah lebih dulu memikirkan dan mencoba menjawab definisi Realita, dan mereka memiliki jawabannya.

Di dalam ajaran Hindu, dikenal dengan "Brahma". Seorang yang mampu mencapai kondisi Brahma disebut Brahman (dalam bahasa Inggris). Brahma adalah suatu reality yang hakiki. Di alam semesta ini, manusia terbatasi oleh penciptaan dan penghancuran. Brahma tidak real bagi kita yang mengalami penciptaan dan penghancuran alam semesta. Sedangkan bila kita mencapai Brahma, maka Tuhan, Penciptaan dan Penghancuran tidaklah lagi relevan. Karena semua yang ada di alam ini sejak awal dan akhir adalah ilusi semata.

Pada kesempatan lain, Harus Yahya dalam bukunya "Atlas of Creation" menjelaskan definisnya mengenai reality. Ia mengatakan bahwa alam yang kita lihat ini adalah real sebatas indera kita mampu merasakannya. Sesungguhnya semua yang ada di alam ini adalah ilusi. Alam semesta bagaikan Hologram (Holographic Universe)

Dari sini sedikit terungkap apa yang sesungguhnya diajarkan oleh agama, ini adalah inti dari ajaran agama. Bukan hanya organized-religion degan perangkat aktivitasnya serta ritual-ritual rutinnya. Melainkan satu hal penting yang harus dipahami; bahwa tidak ada yang REAL selain DIA. DIA adalah satu-satunya yang REAL.

-------------------