Selasa, 07 Juli 2015

Brane Worlds


Pendahuluan

Sebuah buku menarik telah saya baca. “The Fabric of the Cosmos”. Sebuah komentar mengatakan “Another Hawking, only better” untuk sang penulis. Dialah Brian Greene dari Columbia University yang juga penulis “The Elegant Universe” yang menjadi best seller. Tidak hanya buku, sebuah tiga episode film berjudul sama, “The Elegant Universe” diproduski oleh NOVA dan PBS dan bisa di tonton online di internet. Bagi yang lebih menyukai menonton film ketimbang membaca buku, Film ini sangat bagus dan lebih mudah dimengerti. Rasa takjub saya kepada alam semesta bertambah dan membuat saya berpikir panjang.

Sempat saya angkat sedikit tulisan saya ke sebuah mailing list di internet, dan mendapatkan banyak tanggapan. Sungguh sebuah topik yang sangat serius dan menggugah siapa pun untuk ikut serta dalam diskusi panjang dan meluas hingga kepada agama.

Tulisan ini merupakan rangkuman dari beberapa buku fisika yang saya baca namun saya berusaha untuk menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti dan berharap bisa menjadi sebuah referensi sederhana bagi siapa pun.


Fisika Klasik

Perjalanan kita dimulai dari sebuah kecelakaan di masa lampau yang menimpa kepala seorang pemikir terkenal. Sebuah apel jatuh dari pohonnya dan memberi ide kepada Isaac Newton. Ide apel yang jatuh ini merupakan awal popularitas gaya atau forsa (force) gravitasi yang diperkenalkan Newton. Forsa gravitasi-lah yang menyebabkan apel jatuh. Forsa ini pula lah yang menyebabkan planet melintas pada orbitnya mengelilingi matahari. Karya Isaac Newton mengenai forsa gravitasi dalam bukunya yang tekenal “Principia of Mathematica” masih digunakan orang hingga sekarang untuk meluncurkan roket mengelilingi bulan dan mengirimkan rover ke planet Mars.

Newton berhasil merubah pandangan orang. Gaya tarik-menarik yang tak terlihat itu bisa dihitung dan menjadi nyata dalam aplikasinya. Gravitasi adalah sebuah forsa fundamental di alam ini. Walaupun demikian Newton belum bisa menjawab apakah gravitasi tersebut.


Fisika Relativitas Umum

Dr. Albert Einstein
Dari sebuah kantor paten di Swiss, ilmuwan muda, Albert Einstein menyelidiki cahaya. Ia menemukan bahwa cahaya merambat dengan kecepatan sangat tinggi dan tidak ada satu obyek pun yang mampu bergerak melebihi kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya adalah konstan dan sama di mana saja di alam semesta ini. Einstein memperkenalkan kepada dunia sebuah konsep dan cara berpikir baru mengenai ruang-waktu.

Dalam menyelidiki ini, Einstein menemukan bahwa sebuah benda massif di alam semesta seperti bintang atau matahari kita, melengkungkan ruang. Anda bisa membayangkan sebuah bola bowling di atas permukaan trampoline. Karet trampoline melendut atau melengkung ke bawah karena massa bola bowling. Kemudian bila sebuah bola yang lebih kecil dan lebih ringan massanya, misal bola tennis, digelindingkan di samping bola bola bowling menyeberangi permukaan trampoline, maka lintasan bola tennis akan membelok dikarenakan permukaan karet trampoline yang melengkung. Einstein menemukan apa yang disebut forsa gravitasi.

Lintasan planet yang mengelilingi matahari sebenarnya adalah lintasan planet yang bergerak lurus namun terlengkungkan oleh ruang yang melengkung dikarenakan massa matahari di dekatnya.

Lalu apa yang terjadi bila tiba-tiba matahari lenyap? Menurut Newton, planet-planet akan kehilangan forsa gravitasi dari matahari dan seketika itu pula melanjutkan gerak lurusnya menjauh dari matahari. Ilustrasi yang benar namun tidak seluruhnya tepat. Einstein menambahkan bahwa cahaya memerlukan waktu 8 menit untuk mencapai bumi. Jika tiba-tiba matahari lenyap, maka kelengkungan ruang yang disebabkan massa matahari akan kembali ke kondisi ruang yang rata. Dengan kata lain anda bisa membayangkan permukaan trampoline yang menjadi rata kembali ketika bola bowling diangkat, atau permukaan air yang beriak kemudian tenang kembali. Sebuah riak gelombang terjadi dari pusat lokasi matahari. Gelombang forsa gravitasi ini merambat dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya. Sehingga Einstein mengemukakan bahwa planet bumi tidak akan langsung meninggalkan orbitnya sebelum 8 menit, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh forsa gravitasi untuk mencapai bumi dari matahari.

Einstein menerbitkan teori Relativitas Umum. Forsa gravitasi berhasil dijelaskan. Hingga kini, Relativitas umum merupakan teori yang mampu dengan baik menjelaskan pergerakan benda-benda massif di alam semesta seperti planet, matahari, dan galaksi. Teori relativitas menjelaskan alam semesta dalam ukuran besar. Einstein meyakini bahwa alam semesta berperilaku teratur seperti yang diamati dikarenakan mematuhui hukum-hukum fisika. “Tuhan tidak bermain dadu”, ucapnya.

Einstein membuka wawasan tentang bagimana orang seharusnya melihat ruang dan waktu. Ruang dan waktu bagaikan sebuah fabric atau lembaran kain yang membentang. Ruang-waktu dapat mengkerut, meregang, terpilin dan terdistorsi oleh medan gravitasi dari benda massif.


Fisika Quantum

Mulai dari sini tulisan saya akan lebih rumit untuk diikuti, saya pun menemukan kesulitan dalam menuliskannya. Kehadiran Einstein yang cemerlang dan teorinya yang memukau membangkitkan semangat seluruh fisikawan teoretis diseluruh dunia. Gagasan-gagasan baru diajukan dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada kesempatan ini saya hanya akan menyinggung yang penting-penting saja.

James Clerk Maxwell

Listrik (electricity) adalah sebuah forsa. Magnet juga febuah forsa. Orang menemukan bahwa listrik dan magnet adalah relevan, keduanya saling berpengaruh. James Clerk Maxwell berhasil menggabungkan kedua forsa tersebut menjadi sebuah forsa fundamental alam lainnya selain forsa gravitasi, yaitu forsa Electromagnetic (EM). Forsa EM dihasilkan oleh alam setiap saat, bahkan setiap partikel membawa muatan listrik yang mempengaruhi secara signifikan interaksi antar pertikel.

Maxwell mengirimkan sebuah paper kepada Einstein untuk dipublikasikan. Maxwell meyakini bahwa selain forsa gravitasi yang merambat pada dan melengkungkan ruang, forsa EM juga demikian, dan forsa EM memerlukan ruang untuk merambat. Tapi dimana? Untuk menjawab ini maka Maxwell mengusulkan sebuah dimensi ruang tambahan agar Forsa EM tersebut dapat merambat. Einstein menerima ide Maxwell ini. Diterimanya sebuah dimensi ruang tambahan adalah sebuah momentum awal manusia dalam mengkoreksi cara pandang terhadap alam. Lalu, dimana letak dimensi tambahan ini? Mengapa kita tidak melihatnya?

Ilmuan lain, Kaluza dan Klein mengusulkan bahwa dimensi extra itu sangat kecil. Bayangkan saja bila anda melihat sebuah kawat listrik dari jauh. Anda melihat kawat tersebut sangat kecil bagaikan sebuah tali yang memiliki panjang saja tanpa lebar. Namun bila kita melihat dari jarak yang sangat dekat, misalkan dari pandangan seekor semut, maka seekor semut itu dapat bergerak maju, mundur serta berputar ke kanan dan ke kiri di badan kawat listrik tersebut. Inilah dimensi extra yang tak tampak tesebut. Kaluza-Klein mengusulkan bahwa dimensi extra berukuran sangat kecil di setiap titik lokasi pada ruang. Karena terlalu kecil maka ia tak terlihat.

Einstein terinspirasi oleh forsa EM ini dan meyakini bahwa untuk mengerti alam ini secara fundamental maka forsa Gravitasi harus bisa disatukan dengan forsa EM. Sebuah penggabungan atau unification. Sejak saat itu seluruh hidupnya dihabiskan untuk menemukan sebuah rumusan tunggal yang mampu menjelaskan forsa gravitasi dan EM.

Sementara itu Neils Bohr memperkenalkan model atomnya yang diterima dengan baik, yaitu bahwa atom terdiri dari inti, inti terbentuk dari proton yang bermuatan positif dan neutron yang bermuatan netral, di sekitar inti mengorbit electron yang bermuatan negatif.

Di sinilah orang mulai berpikir pada semesta yang sangat kecil. Untuk mengerti perilaku alam semesta secara keseluruhan, maka orang harus mengerti interaksi antar partikel. Penelitian ini menghantarkan orang pada alam sub-atomic. Disinilah lahirnya fisika quantum.
Jika Teori Relativitas menjelaskan alam semesta dalam ukuran besar, maka fisika quantum menjelaskan alam semesta dalam ukuran sangat kecil.

Namun terjadi sebuah kontradiksi. Pada ukuran alam yang sangat kecil ini, gravitasi bagaikan tidak punya gigi. Maksudnya, forsa gravitasi tidak memiliki peran sama sekali dalam reaksi antar partikel. Malahan, fisikawan berhasil menemukan forsa fundamental lainnya, yaitu forsa nuklir Kuat (Strong Nuclear Force) yang merekatkan inti atom pada tempatnya, dan forsa nuklir lemah (Weak Nuclear Force) yang menyebabkan peluruhan atom atau radiasi.

Sejauh ini telah ditemukan seluruh forsa fundamental alam. Mereka adalah forsa gravitasi, forsa electromagnetic, forsa nuklir kuat dan forsa nuklir lemah. Ditinjau dari kekuatan energi-nya, maka forsa nuklir kuat adalah yang terkuat. Ini telah dibuktikan dengan dibuatnya bom atom. Peledakan bom atom adalah sebuah pelepasan energi forsa nuklir kuat yang disebabkan oleh pemisahan partikel pada inti atom. Pemecahan inti atom ini membuat luruhnya (radiasi) atom yang energi-nya (energi forsa nuklir lemah) masih dapat dideteksi hingga sekarang.

Forsa gravitasi adalah yang terlemah di antara ketiganya. Bila dibandingkan dengan forsa EM saja, maka forsa EM trilyunan kali lebih kuat. Forsa Gravitasi hanya dapat dirasakan pada benda-benda ber-massa sangat besar seperti planet dan bintang. Pada alam quantum, forsa gravitasi tidak memiliki pengaruh, karena kekuatan forsa ini terlalu kecil untuk diperhitungkan.

Sebuah dilema dan masalah serius bagi fisikawan. Unification mengalami kendala.

Pada kesempatan lain, Roger Penrose dan Stephen Hawking mendalami sebuah fenomena alam, yaitu keruntuhan bintang. Sebuah bintang dapat runtuh bila setiap partikel yang membentuknya kehilangan energi. Electron yang kehabisan energi akan jatuh ke inti atom. Ukuran atom mengkerut sangat signifikan sehingga ukuran bintang itu pun mengkerut ke ukuran yang sangat kecil. Namun demikian, forsa gravitasi tidak berubah. Singkatnya, pada ukuran yang sangat kecil ini, forsa gravitasi sangat kuat. Ruang terlengkungkan ke ukuran tak hingga.

Demikian kuatnya forsa gravitasi hingga cahaya pun tidak dapat lolos. Bila cahaya tidak dapat lolos, maka kita tidak mungkin bisa melihat bintang runtuh tersebut. Keberadaan bintang runtuh ini hanya dapat dilihat dengan memperhatikan daerah hitam gelap di langit yang memiliki gravitasi kuat. Oleh kerenanya bintang runtuh lebih sering disebut lubang hitam (black hole).

Cahaya, atau partikel cahaya yang disebut photon yang jatuh ke dalam lubang hitam tidak akan dapat lolos. Namun pada jarak tertentu dari inti lubang hitam dimana forsa gravitasi tidak terlalu kuat sehingga cahaya masih dapat bertahan untuk tidak jatuh namun terlalu lemah untuk bisa lolos, maka cahaya tersebut hanya dapat melayang-layang di situ. Jarak ini disebut horizon peristiwa (event horizon). Dinamakan demikian karena dipercayai jika cahaya berhenti bergerak, maka waktu setempat ikut berhenti.


Singularitas dan Penciptaan Alam Semesta

Saya rasa perlu untuk meninjau bahasan ini. Tujuan akhir fisika adalah untuk mengerti perilaku alam semesta, bagaimana terciptanya dan untuk apa diciptakan. Pertanyaan terakhir terdengar seperti keinginan manusia untuk mengerti pikiran Tuhan. Namun apabila memang Tuhan menciptakan alam ini dengan alasan khusus, maka jawabannya tentu saja dengan harus menjawab terlebih dahulu pertanyaan bagaiman alam semesta ini diciptakan.

Penrose memberi ide kepada Hawking mengenai asal-usul alam semesta. Ditambah dengan Sebuah pengamatan mengenai alam semesta yang mengembang, menyimpulkan bahwa suatu saat di masa lampau, alam semesta ini berukuran sangat kecil. Hawking menegaskan bahwa alam semesta ini berawal dari sebuah titik tunggal sangat kecil. Sebuah singularitas.

Singularitas berasal dari kata singular atau sebuah kondisi “tunggal”. Di titik awal terbentuknya ruang-waktu ini, seluruh forsa fundamental alam seharusnya masih berupa satu forsa tunggal. Kemudian seperti halnya ledakan bom nuklir, pecahnya sebuah forsa tunggal ini menjadi empat forsa alam menghasilkan ledakan yang Maha dahsyat, yang disebut “Big Bang”.

Big Bang adalah peristiwa penciptaan alam semesta ini. Sebuah peristiwa terpecahnya sebuah forsa tunggal menjadi 4 forsa fundamental.

Alam mengembang hingga sekarang dan membentuk bintang dan planet.

Penemuan lubang hitam bagaikan melihat Big Bang dari arah terbalik. Lubang hitam adalah singularitas. Maka untuk mengerti bagaimana alam semesta ini diciptakan, adalah dengan menggabungkan keempat forsa yang ada. Sampai hingga fase ini, manusia sudah berhasil menggabungkan forsa EM dengan forsa nuklir lemah menjadi forsa elektrolemah (Electroweak Force). Juga elektrolemah digabungkan dengan forsa nuklir kuat menghasilkan sebuah framework yang diyakini sebagai “model standard” (Standard Model) dari sebuah teori pamungkas yang mampu menjelaskan asal usul alam semesta dalam sebuah teori tunggal; “Teori Segala Hal”, atau ”Theory of Everything (TOE)”


Relativitas VS Quantum 

Lubang hitam adalah sebuah momok bagi fisika saat itu. Dikala mereka melupakan forsa gravitasi karena dinilai terlalu lemah, di depan mata mereka terpampang peristiwa nyata mengenai penyatuan forsa-forsa tersebut ke dalam sebuah singularitas. Bagaimana sebuah obyek berukuran tak-hingga kecilnya menghasilkan gravitasi begitu besarnya? Bagaimana menjelaskan mekanika lubang hitam ini?

Teori Relativitas tidak berlaku di alam berukuran quantum karena pada teori ini forsa gravitasi sangat berperan dan hanya melibatkan benda-benda besar. Teori fisika quantum mampu menjelaskan alam sangat kecil ini namun ia tidak bisa melibatkan forsa gravitasi.

Kesimpulannya, fisika runtuh di lubang hitam. Benar-benar sebuah lubang hitam yang sangat gelap karena tidak ada satu pun perangkat ilmu yang mampu menjelaskannya.


Strings Theory

Agak kembali sedikit ke masa lampau, saat hampir semua fisikawan berbondong-bondong menyelidiki fisika quantum, ada sebagian kecil, mungkin boleh dikatakan, satu atau dua orang saja yang tersisa dari seluruh ilmuwan yang ada di dunia ini yang tidak mengikuti jejak rekan-rekan yang lainnya.

Saat semua orang beranggapan bahwa wujud atom dan partikel berbentuk menyerupai titik atau bola, maka sebagian kecil ilmuwan ini menemukan kemungkinan lain dari persamaan matematis yang membawa mereka pada ide liar bahwa kesalahan fisika selama ini terletak pada ‘bentuk’. Kita telah keliru memandang partikel berbentuk bola. Mereka menemukan bahwa pertikel berbentuk tali atau string.

Lalu apa implikasinya jika pertikel fundamental berbentuk string?

String berukuran sangat kecil, yaitu berjuta-juta kali lebih kecil dari quark. Untuk membayangkan ukuran string yang sangat kecil ini, bayangkanlah bila sebuah atom adalah tata surya kita, maka sebuah string berukuran sebuah pohon di bumi. String super kecil ini yang saking kecilnya dianggap hanya memiliki panjang saja (satu dimensi-ruang) bergetar dan variasi getarannya itulah yang menghasilkan apa yang kita amati sebagai partikel-partikel. Para pengusung teori string ini mengatakan bahwa string adalah satu-satu nya bahan dasar pembentuk ruang dan waktu. Yang kita amati sebagai beraneka ragam partikel itu sebenarnya adalah hasil variasi getar string-string yang sama.

Dengan demikian maka perhitungan atau persamaan matematikanya menjadi berubah sama sekali. Alam fisika quantum yang tadinya mengabaikan forsa gravitasi sekarang dapat menerima forsa gravitasi tersebut sebagai bagian dari persamaan matematisnya. Atau boleh dikatakan telah ditemukan forsa gravitasi di alam quantum. Fisika relativitas dan fisika quantum berhasil disatukan. Teori string diduga kuat sebagai teori pamungkas yang dicari, sebuah teori tunggal yang mampu menjelaskan perilaku alam semesta ini; sebuah teori segala hal.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana forsa gravitasi ditemukan dalam persamaan matematika fisika quantum? Untuk menyinggung ini, perlu kita kilas balik sedikit sekelumit sejarah panjang perkembangan teori string.

Teori string tidak terjadi dalam semalam saja. Diawali di tahun 1968, oleh seorang fisikawan muda asal Italy, Gabriele Veneziano, sekarang bekerja untuk CERN, yang mempelajari persamaan matematis yang menjelaskan forsa nuklir kuat. Ditemukannya persamaan ini membuka jalan pada penelitian forsa tersembunyi di inti atom. Kemudian penelitian menggugah ilmuwan lainnya, Leonard Suskind dari Stanford University yang melihat bahwa persamaan tersebut mengindikasikan sesuatu yang tersembunyi, sebuah partikel yang memiliki struktur internal yang bisa melendut dan meregang. Partikel ini bukan berbentuk titik atau bola, namun berbentuk string yang secara alami bergerak lentur. Temuannya ini sempat tidak mendapat tanggapan dari fisikawan lainnya.

 
John H. Schwarz dan Michael B. Green (Pictures from NOVA)

Adalah seorang fisikawan yang melanjutkan penelitian mengenai string ini, di tahun 1973, yaitu John H. Schwarz dari California Institute of Technology, mengemukakan bahwa jika string ini benar, maka string akan mampu menjelaskan banyak misteri alam ini. Schwarz berhasil menarik perhatian para ilmuwan dunia dan orang mulai banyak bergabung mendalami teori radikal ini.

Namun teori string mengalami kendala besar. Yaitu terdapat beberapa anomali pada perhitungan atau persamaan matematisnya. Pertama, teori string melibatkan sebuah partikel bermassa nol dan partikel tachyon, yaitu partikel yang bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya. Telah disinggung sebelumnya bahwa Teori Relativitas tidak membenarkan adanya obyek yang bergerak melebihi kecepatan cahaya. Teori string sekali lagi nyaris turun pamor.

Michael B. Green dari Cambridge University bergabung dengan Schwarz untuk mengkaji dan membedah persamaan matematis teori string ini lebih dalam. Di tahun 1984 Mereka berhasil meniadakan anomali tersebut. Mereka menemukan bahwa partikel aneh yang menjadi momok teori ini sebenarnya adalah “graviton” yaitu partikel untuk forsa gravitasi. Peristiwa sangat bersejarah ini dikenal sebagai salah satu yang menggemparkan dunia. Schwarz dan Green menemukan forsa gravitasi dalam persamaan mereka. Mereka berhasil gemilang meniadakan anomali.

Lebih banyak lagi orang ikut bergabung melanjutkan perjuangan Schwarz dan Green hingga kemudian sebuah kendala besar dihadapi mereka kembali, yaitu:

  1. Teori string melibatkan dimensi extra.
    Seperti yang kita kenali bersama bahwa kita hidup di alam dengan 3 dimensi-ruang yaitu panjang, lebar, dan tinggi ditambah 1 dimensi waktu menjadikan total = 4 dimensi ruang-waktu. Namun string harus bergerak di lebih dari 3 dimensi ruang itu. String harus bergerak di 9 dimensi ruang. Sehingga menurut teori string, alam yang kita tempati ini sebenarnya memiliki 10 dimensi ruang waktu.

    Lalu dimana ke-enam dimensi ruang lainnya? Mengapa kita tidak bisa melihat atau merasakannya? Sekali lagi Kaluza dan Klein mengajukan bahwa 6 dimensi ruang ini berukuran sangat kecil sehingga tidak bisa teramati.

    Namun kemudian orang mulai menerima kehadiran dimensi ektra ini karena memang HARUS ada dimensi extra di alam ini bagi string untuk wujud. Dimensi extra adalah sebuah temuan fenomenal.
     
  2. Terdapat 5 teori string.
    Ini merupakan masalah besar. Bagaimana sebuah teori segala hal hadir dalam 5 variasi? Setiap teori sama-sama benar namun memiliki perbedaan mendasar pada persamaan matematisnya.


Strings / M-Theory

Edward Witten (Picture from NOVA)
Barulah Pada tahun 1995, pada konvensi fisika sedunia, seorang fisikawan yang kemudian menjadi sangat terkenal, yaitu Edward Witten, dari Institute for Advance Study, mempublikasikan papernya. Edward Witten dijuluki sebagai orang tercerdas di planet bumi ini dan mendapat julukan “the true successor of Einstein”, ia berhasil menggabungkan ke-lima teori string menjadi sebuah teori tunggal yaitu M-Theory.

Witten mengemukakan bahwa kelima teori string itu sebenarnya hanyalah ragam cara melihat suatu hal yang sama. Kita bagaikan berada dalam ruangan gelap gulita dan saling meraba seekor gajah yang sama di depan kita. Sebagian meraba kepalanya, sebagian meraba kakinya, sebagian meraba belalainya dan sebagian meraba badannya, begitu Edward Witten memberikan penerangan di dalam ruangan, barulah orang menyadari bahwa sebenarnya mereka semua meraba seekor gajah yang sama.

Penerangan yang dibawa oleh Witten dalam M-Theory nya ini adalah dengan menghadirkan sebuah dimensi ruang tambahan ke dalam hitungan matematis teori string. Seluruh persamaan menjadi klop dan semuanya mejadi masuk akal. Kini alam kita diyakini oleh string/M-theory memiliki 10 dimensi ruang menjadikannya total 11 dimensi ruang-waktu.

Edward Witten tidak menyebutkan kepanjangan dari “M” itu.


Braneworlds 

M-theory mengemukakan bahwa:

  1. String merupakan tali super kecil yang memiliki panjang saja (1 dimensi) dengan kedua ujungnya terbuka (open loop).
  2. Terdapat string yang melar hinga memiliki panjang dan lebar (2-dimensi), membentuk membrane (disingkat, “brane”) atau sebuah lembaran super tipis. Kita sebut ini sebagai 2-brane. Sedangkan string 1 dimensi disebut dengan 1-brane.
  3. Kedua ujung string 1-brane harus melekat / bertumpu pada 2-brane.
Perbedaan signifikan terjadi setelah hadirnya M-Theory adalah bahwa orang mulai meninggalkan gambaran dimensi extra yang terpilin sangat kecil itu. M-Theory memberi gambaran pada kemungkinan yang berlawanan, yaitu bahwa dimensi-ruang extra itu berukuran sangat besar. Kita mungkin hidup di alam semesta 3 diemensi-ruang yang berada di dalam sebuah dimensi-ruang yang lebih besar lagi. Bahwa alam semesta kita berupa membrane 3 dimensi ruang atau 3-brane, dan alam 3-brane kita berada di dalam alam berdimensi lebih tinggi – yaitu alam 4 dimensi-ruang atau 4-brane.

Agar lebih mudah mengerti konsep membrane ini, bayangkanlah bahwa layar televisi anda adalah sebuah dunia dua dimensi. Pemain film di dalam televisi hidup di alam dengan 2 dimensi-ruang saja (hanya memiliki dimensi panjang dan lebar) mereka tidak memiliki dimensi ruang ke-tiga. Mereka tidak tau dan tidak menyadarinya. Jarak antara mata anda ke layar televisi adalah sebuah dimensi-ruang ke-tiga yang tidak dimiliki alam dalam televisi itu. Atau boleh saya dikatakan bahwa untuk menemukan dimensi extra, maka makhluk yang hidup di dimensi layar televisi harus keluar dari layar televisi tersebut.

Sampai tahap ini apakah anda sudah bisa membayangkannya? Sekarang coba bayangkan alam semesta kita adalah layar televisi tersebut. Televisi dengan 3 dimensi ruang. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu adalah dimensi ruang ke-empat yang tidak dimiliki oleh alam kita. Alam di luar alam kita adalah sebuah alam semesta yang memiliki 4 dimensi-ruang.

Sekarang bayangkan bila alam semesta dengan 4 dimensi-ruang itu adalah sebuah layar televisi. Maka jarak antara pengamat lain di luar televisi ke layar televisi itu adalah dimensi ruang ke-lima yang tidak dimiliki oleh alam 4 dimensi-ruang.

Demikian seterusnya.

Marilah kita lanjutkan membayangkan dengan cara yang sama ke alam semesta kita.

Alam semesta kita yaitu 3-brane berada di membrane yang lebih tinggi; 4 brane. Atau boleh saya katakan alam 3-brane kita dibungkus oleh alam 4-brane. M-Theory mengatakan bahwa alam 3-brane kita memiliki kemungkinan exist berdampingan dengan alam 3-brane lainnya (parallel universe). Ada berapa banyak parallel universe? Tidak ada yang tau.

Lalu dimana dimensi 5, 6, 7, 8, 9, dan 10?
Mari kita lanjutkan lagi membayangkannya. Bila alam 3-brane dibungkus alam 4-brane, maka:
Alam 3-brane dibungkus oleh alam 4-brane (lapis 1)
Alam 4-brane dibungkus oleh alam 5-brane (lapis 2)
Alam 5-brane dibungkus oleh alam 6-brane (lapis 3)
Alam 6-brane dibungkus oleh alam 7-brane (lapis 4)
Alam 7-brane dibungkus oleh alam 8-brane (lapis 5)
Alam 8-brane dibungkus oleh alam 9-brane (lapis 6)
Alam 9-brane dibungkus oleh alam 10-brane (lapis 7)

Alam semesta kita dibungkus oleh alam lainnya yang berdimensi-ruang lebih tinggi. Dan di setiap membrane terdapat parallel universe.

String terbuka (opened-loop string) yang kedua ujungnya tertambat pada membrane. (Picture from NOVA)


Graviton 

M-Theory diterima luas sebagai teori elegan dengan keindahan matematika tingkat tinggi. Inilah sebuah wujud pencapaian peradaban manusia terkini.

Untuk melengkapi pemaparan saya, saya akan singgung sedikit lagi kelanjutan atau perkembangan dari teori ini.

String tertutup (closed-loop string) (Picture from NOVA) 
String dipercaya memiliki bentuk open-loop atau kedua ujungnya terbuka dan menumpu pada membrane lain. Namun diyakini ada pula string dengan ujungya saling bertautan (besambung) sehingga membentuk closed-loop. Dengan ujung yang tidak bebas ini maka string jenis ini tidak bisa bertumpu pada membrane. Jenis string seperti ini bebas melayang ke ruang mana saja dan menyebrang ke membrane lain. String dengan closed-loop ini adalah Graviton.

Masih ingat forsa gravitasi yang dianggap paling lemah diantara forsa yang lainnya? Dengan sifat graviton yang bebas itu maka forsa gravitasi sesungguhnya sangat kuat, bahkan mungkin sama kuatnya dengan forsa Electromagnetic. Ia tampak lemah karena sebagian kekuatan forsa gravitasi mampu menyebrang ke brane lainnya dengan bebas.

Graviton adalah satu-satunya partikel saat ini yang diyakini bebas bergerak menyebrang ke membrane lainnya. Forsa lainnya tidak bisa meninggalkan suatu membrane. Sehingga tidak mungkin kita bisa melihat alam brane lain atau parallel universe karena cahaya tidak dapat keluar dari membrane. Forsa nuklir kuat, forsa nuklir lemah, Electromagnetic dan cahaya terperangkap di dalam sebuah membrane.

Satu hal yang menjadi perhatian dunia adalah membuktikan keberadaan string melalui percobaan laboratorium. String adalah teori elegan yang belum terbukti melalui experimen. Namun dengan syarat yang ditentukan oleh teori ini sendiri, terbuka peluang untuk membuktikannya dan upaya pembuktian ini menjadi prioritas utama. Antara lain adalah sedang berjalannya usaha bersama antara Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan California Intitute of Technology (CIT) dan didanai oleh The National Science Foundation membangun sebuah Observatory raksasa yang bukan berbasis cahaya maupun radio, melainkan berbasis forsa gravitasi. Harapannya adalah terdeteksinya graviton yang muncul semerta-merta membawa signature dari alam semesta membrane lain. Wahana ini dinamakan Laser Interferometer Gravitational Wave Observatory (LIGO). Juga direncanakan untuk dibangun Versi luar angaksa dari LIGO, adalah Laser Interferometer Space Antenna (LISA).

Ilustrasi Graviton bergerak meninggalkan membrane (picture source: NOVA)

Usaha lainnya sedang dilakukan Fermilab, sebuah laboratorium di Illinois yang memiliki atom smasher, yaitu sebuah Akselerator Partikel yang berfungsi untuk mempercepat inti atom hydrogen dalam suatu lintasan sepanjang 4 mil untuk kemudian ditabrakkan dengan inti atom Hydrogen lain ujung lintasan. Inti atom yang ditabrakkan akan terpecah dan menghasilkan siraman partikel-partikel yang lebih kecil. Sebelum M-Theory, ilmuwan hanya berusaha mengindentifikasi siraman partikel-partikel baru tersebut, namun kali ini mereka berusaha mendeteksi partikel graviton yang muncul saat terjadi tabrakan. Namun graviton akan muncul hanya sekejap karena graviton yang berdiri sendiri akan langsung menyeberang ke membrane lain. Graviton yang muncul dan hilang hanya dalam sekejap ini tidak akan memberi kesempatan pengamat untuk mendeteksinya. Untuk mengatasi ini maka pendeteksian graviton ditandai dengan absen-nya partikel tersebut sesaat setelah tabrakan.

Fermilab (Picture source: NOVA)

Hal serupa akan disusul oleh sebuah atom smasher raksasa yang sedang dalam tahap pembangunan yang memiliki kekuatan 7 kali lebih besar dibandingkan dengan yang dimiliki Fermilab. Atom smasher dan Akselerator Partikel raksasa ini adalah milik CERN, Swiss.

Large Hadron Collider (LHC) milik CERN, akselerator partikel terbesar di dunia
(Picture source: NOVA)

Jutaan dollar telah dikeluarkan untuk pembangunan alat-alat raksasa tersebut dan mereka saling berlomba sebagai yang pertama kali menemukan graviton. Jika graviton ditemukan, maka teori string kukuh dan benar dengan seluruh impllikasinya; braneworlds yang meggambarkan alam semesta kita ini berlapis dengan 11 dimensi ruang-waktu adalah benar. Dan alam semesta ini bisa terjelaskan dengan sebuah teori tunggal, “Theory of Everything”.

Membranes (Picture from NOVA)

Zero-Brane

Perkembangan lain dari String/M-Theory adalah munculnya sekelompok ilmuwan yang menemukan kejanggalan atas statement bahwa string adalah satu-satunya ingredient atau bahan dasar pembentuk ruang dan waktu. Pertanyaan mereka adalah, jika string perlu ruang dan waktu untuk bergetar dan bergerak, bagaiman bisa mereka dinobati sebagai bahan dasar pembentuk ruang-waktu?

Jikapun harus ada bahan dasar yang paling fundamental yang membentuk ruang-waktu, maka entity ini haruslah tidak terikat oleh ruang-waktu, atau space-less and time-less entity . Entity semacam ini tidak mungkin berbentuk string, melainkan sebuah titik tanpa dimensi atau berdimensi nol; Zero-Brane Entity. Usulan ini patut mendapat perhatian karena usulan ini meng-klaim bahwa string bukanlah bahan fundamental pembentuk ruang waktu.

Zero-Brane yang berbentuk titik tanpa dimensi ini haruslah teratur menandai setiap titik pada ruang namun tidak terikat oleh ruang. Titik-titik teratur bagai grid. Teori ini dikenal sebagai Matrix Theory. “M” sebagai “Matrix” dari M-theory.


Kesimpulan 

Sampailah saya pada bab kesimpulan yang saya persiapkan untuk menyimpulkan serta memberi pendapat atau usulan kepada pembaca sebagai bahan pemikiran dan diskusi.

Dulu Stephen Hawking pernah bertanya, jika ruang dan waktu akan hancur suatu saat nanti dalam sebuah kehancuran besar atau Big Crunch maka dimana letak Tuhan? Hawking mendapat julukan atheis (tidak percaya Tuhan). Namun saya pun pernah menanyakan hal serupa. Seorang teman memperingatkan saya agar berhati-hati dan menghindari diri dari kekafiran. Tapi saya yakin kita adalah manusia ciptaan Tuhan yang diberi karunia otak yang berkemampuan mempertanyakan pertanyaan tersebut. Lalu kenapa harus jadi kafir karenanya?

Keyakinan dan rasa ingin tau saya, saya salurkan dengan mempelajari ilmu-ilmu kebatinan, fisika, serta melakukan wawancara kepada beberapa pemuka agama. Kesimpulan yang saya dapat adalah yang tertuang di dalam tulisan saya ini.

Orang mengatakan bahwa Tuhan itu lebih besar dari alam semesta ini. Ia tidak mungkin hancur oleh ciptaanNya sendiri. Benar! Saya setuju, lalu tentunya ada penjelasan logis yang menempatkan Tuhan di posisi yang Maha Besar itu.

Di alam semesta yang kita tempati ini, kita hidup di sebuah planet bernama bumi. Bumi dan planet-planet lannya mengorbit mengelilingi matahari. Ini sebuah tata-surya. Tata surya kita ini adalah satu dari milyaran tata surya lain dalam sebuah galaksi yang bernama bima sakti. Galaksi Bima sakti adalah satu dari milyaran galaksi lain dalam sebuah cluster galaksi. Dan cluster galaksi tersebut merupakan satu dari milyaran cluster galaksi lainnya. Seluas itulah alam semesta kita. Dan Bumi bagai sebuah debu yang sangat kecil. Perjalanan ilmu pengetahuan manusia telah melawati tapal batas alam semesta ini dan sekarang sedang berusaha menyeberang ke alam semesta lainnya yang berdimensi lebih.

Mampukah manusia menembus hingga 10-braneworlds (alam semesta paling tertinggi)? Apakah kita akan menemukan Tuhan di sana?

Ada ketentuan yang telah saya singgung di atas; Tuhan tidak mungkin terbelenggu oleh ciptaanNya sendiri. Tuhan tidak mungkin berada di dalam salah satu-pun ruang membrane/braneworlds. Tuhan tentunya juga tidak mungkin terikat oleh “waktu” yang diciptakannya sendiri. Tuhan adalah sebuah entity yang terbebas dari ruang dan waktu. Tuhan pastilah menguasai sebuah realm dimana ruang dan waktu tidak relevant; The Zero-Brane Entity.


Lain-lain

Ide untuk kajian-kajian lain memenuhi kepala saya saat itu, seperti; Bagaimana manusia bisa menyeberang ke alam brane lain sedangkan cahaya saja tidak mampu menembusnya? Bagaimana Malaikat hilir mudik dengan mudahnya dari satu brane ke brane yang lainnya Seberapa kuasanyakah manusia untuk bisa menguasai itu semua?

Dibawah ini adalah hasil diskusi saya bersama rekan-rekan saya;

Tidak ada partikel yang mampu pergi ke alam brane lain selain graviton. Bilapun mungkin ada partikel lain yang memiliki string tertutup (closed-loop), saat ini kita tidak mengetahuinya. Tapi katakanlah demikian, maka untuk bisa menyeberang ke alam brane lain adalah dengan cara membungkus diri kita dengan graviton. Teman saya memberi ide mungkin kita harus berubah wujud dulu menjadi suatu zat dengan string tertutup, barulah kita bisa pergi ke brane lain. Atau mungkin zat inilah yang disebut sebagai ruh? Ruh adalah sebuah zat dengan string tertutup? Ini berarti bahwa untuk pergi ke brane lain kita harus mati dulu?

Yang terbayangkan, entity dengan dimensi lebih sedikit (misalkan alam 3 dimensi-ruang kita), bila pergi ke alam yang berdimensi lebih banyak (misal alam berdimensi-ruang 4) akan kekurangan substance dan tidak akan berwujud di alam tersebut. Seperti cara membayangkan alam di dalam televisi yang orang di dalamnya keluar ke alam 3 dimensi, maka bagaimana bentuk orang yang hanya memiliki 2 dimensi itu berada di alam 3 dimensi ini?. Kita bisa bayangkan ia hanya akan berwujud lembaran sangat tipis dan tidak mungkin bisa exist di alam ini.

Begitu pula kita apabila ingin pergi ke alam brane lain yang lebih tinggi, maka tidak mungkin kita pergi utuh dengan jasad kita seperti apa adanya. Maka usulan yang terdengar paling tepat adalah dengan berubah wujud terlebih dulu menjadi zat yang mampu exist di alam brane manapun.

Dan katakanlah kita mampu berubah wujud menjadi zat netral tersebut, apakah kita masih bisa pergi ke Zero-Brane? Tidak. Mengapa? Karena zat kita itu akan masih memerlukan ruang dan waktu untuk exist.

Saya meyakini bila manusia menguasai braneworlds, maka manusia menguasai dan menyatu dengan alam. Pada tingkat kedewasaan seperti ini, seharusnya tingkat kebijaksanaan manusia sudah mencapai kesempurnaan yang diperlukan untuk bersatu dengan alam ini di semua tingkat brane. Tidak ada lagi dinding pemisah antara yang fisik dan yang metafisik. Manusia akan mampu mendengar tawa bintang, tangisan pohon, serta percakapan semut termasuk keluhan batu-batuan. Manusia akan memimpin alam ini secara total.

Saya tutup tulisan saya sampai disini. Semoga bisa terbangkitkan rasa ingin tau anda dan ikut mencari penjelasan atas kebenaran-kebenaran itu menurut cara anda sendiri.

Apakah Yang dimaksud dengan Realitas

What is Real?

Saya menghirup udara yang mengandung oksigen dan berbagai macam unsur lain melalui hidung saya. Saya merasakan udara masuk melalui hidung ke paru-paru. Inilah 'real'. Udara adalah sesuatu yang 'real'.

Saya menyentuh dan melihat sebuah benda di depan saya, sekuntum bunga mawar berwarna merah yang mekar sangat indah menyejukkan hati yang memandangnya. Bunga mawar adalah 'real'.

Sesuatu yang tajam menusuk kulit saya. Sebuah jarum terinjak oleh kaki saya dan menusuk kaki. Sakit. Jarum adalah 'real'.

Dari contoh peristiwa di atas, "Reality" atau "Nyata" dapat disimpulkan sebagai segala sesuatu yang di pindai oleh indera tubuh kita, penglihatah, penciuman, raba, rasa, dan yang kita dengar, yang kemudian diteruskan oleh jaringan syaraf ke otak. Otak akan menterjemahkan hasil pindai tersebut dan membentuk suatu kesimpulan mengenai apa yang dipindai tubuh kita.



Otak mencari referensi di dalam bagian lain dari otak untuk menemukan jawaban yang tepat dari yang diterim oleh panca indera kita. Seperti membayangkan sistem komputer. Query diterima oleh komputer berupa sebuah parameter yang merujuk pada sebuah data. Komputer kemudian mencari di database; data mana yang cocok untuk parameter yang diminta. Setelah data ditemukan, komputer akan menampilkannya pada layar.

Jika A = Apel, maka bila seseorang melakukan query "A", komputer akan menampilkan "Apple".

Begitulah singkatnya. Otak kita memiliki prinsip kerja yang mirip dengan dengan komputer. Otak menampilkan apa yang ada di dalam database. Jika seseorang melakukan query "B", maka komputer tidak bisa menjawabnya oleh karena "B" belum ada di dalam database.

Lalu bagaimana bila dihadapan kita terdapat sebuah obyek yang belum pernah kita lihat sebelumnya? Otak kita akan berusaha menemukan jawaban yang paling cocok untuk benda tersebut. Sehingga kita akan berkata, "benda itu terlihat seperti lampu mobil" karena benda yang ada di hadapan kita memancarakan dua buah cahaya berjarak tentu dengan posisi sejajar. Walaupun misalnya dalam keadaan gelap kita tidak bisa melihat bentuk keseluruhan benda itu, tetapi kita mencoba mencocokkannya dengan sebuah benda; mobil.

Lalu, manakah yang 'real'? apakah mobil itu real/nyata berada di depan kita? atau hanya cahaya nya saja yang real?. Dalam contoh di atas kita tidak tau sama sekali apakah benda itu mobil atau bukan, menjadikan mobil tersebut bukan sesuatu yang "real'. Yang real adalah cahaya-nya. Karena hanya cahayanya sajalah yang dapat ditangkap oleh indera kita. Sedangkan mobil hanyalah rekaan atau imajinasi saja.

Pada contoh di atas, "cahaya" adalah kata-kuncinya.

Lalu bagaimana bila jika dalam keadaan gelap gulita, dua buah cahaya yang sejajar tersebut tidak lagi memancarkan cahayanya sehingga tidak ada satupun petunjuk yang sampai ke indera kita. Apakah benda itu real atau tidak real?

Contoh sangat sederhana di atas memberikan pengertian yang jelas mengenai apakah "real/nyata" itu. Manusia tidak akan mengetahui apa pun yang tidak tertangkap oleh inderanya, juga bila tidak ada di dalam database otak; sebuah obyek yang belum pernah ada sebelumnya belum tentu langsung dapat terlihat dan dianggap real oleh kita. Dengan berlandaskan pada defisnisi ini, maka sesungguhnya cakupan realitas manusia sungguh terbatas. Manusia terperangkap dalam realita yang dibatasi oleh kondisi fisik. Di luar itu, apa pun selebihnya dianggap tidak-real. Kalaupun harus 'real', maka itu hanyalah sebuah keyakinan atau "faith" semata.

Apakah malaikat dan jin adalah real? apakah Allah real?
Apakah anda bersama saya mempertanyakan itu?

Semakin maju peradaban manusia dan semakin terbukanya pola pikir, pertanyaan yang sangat mendasar itu mulai muncul. Satu kelompok mengatakan bahwa pertanyaan semacam itu adalah tabu. Sedangkan kelompok lainnya cukup berani mempertanyakannya. Termasuk kelompok yang manakah anda?

Terdapat sekelompok lainnya yang (mungkin) tidak merasa perlu mempertanyakan hal itu, namun mereka memiliki rasa ingin tau yang sangat tinggi untuk menjawab pertanyaan, "dari mana asal alam semesta ini? bagaimana terbentuknya? apakah ada awal dan ada akhir-nya?". Mereka adalah sekelompok ilmuwan fisika yang (menurut saya) berada di suatu perjalanan suci mencari kebenaran atau "realitas" yang hakiki mengenai manusia dan alam semesta.

Para ilmuwan fisika telah sampai pada sebuah teori yang hampir tidak bisa dibuktikan sama sekali kebenarannya, namun teori-teori tersebut sangat cocok pada implementasi dan perhitungan-perhitungan lainnya. Teori rumit dan dalam yang mendukung teori lainnya yang lebih dulu dan sederhana, yang mana teori terdahulu tersebut sangat cocok dengan pengamatan. Lalu apakah toeri itu real? apakah teori itu harus bisa diuji di dalam laboratorium untuk menjadi 'real'?

"Ya, jika sebuah teori tidak bisa dibuktikan melalui laboratorium atau observasi, maka ia bukan ilmu fisika, melainkan filosofi." Begitu para ilmuwan fisika berkata.

Atau mungkin deifinisi "laboratorium" perlu dikaji ulang. Apakah yang real itu semata-mata harus bisa terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, tercium oleh hidung, terasa oleh lidah, dan teraba oleh kulit? Seperti sudah saya singgung sebelumnya, jika manusia hanya mengandalkan indera fisik saja, maka manusia akan selalu terkurung dan terbatasi oleh dinding itu.

Dari sinilah para fisikawan menemukan indera lain dari manusia untuk mengkaji realita, yaitu dengan matematika. Dengan melakukan perumusan matematis, persamaan matematis digunakan untuk menguji kebenaran sebuah hipotesa. Persamaan tersebut kemudian diterima sebagai teori yang baik bila ia mempu mendukung teori terdahulu yang berkesesuaian dengan percobaan laboratorum dan astronomi. Rupanya para ilmuwan fisika menghadapi banyak kendala dalam perhitungannya. Matematika saat itu tidak mampu membantu mereka untuk menyelesaikan persamaan yang sangat kompleks, maka mereka harus menemukan khasanah matematika baru yang mampu menyelesaikan persamaan rumit itu.

Di atas kertas, string harus bergerak di lebih dari 3 dimensi-ruang saja. Persamaan matematis mengharuskan adanya 10 dimensi-ruang untuk string bisa eksis. Konsekuensinya bagaikan science-fiction; parallel universe, membrane, dll. Apakah semua itu real? Atau apakah kita akan tetap menganggap teori string adalah science fiction hanya karena indera manusia yang terbatas ini tidak mampu menerimanya?

Oleh karenanya saya selalu berpendapat bahwa "Human's final frontier is the human itself'. Manusia memiliki dinding pembatas yang harus ditembus untuk mampu menerima lebih dari batasan itu. Di dalam dinding, semua adalah "real", sedangkan di luar dinding, bukan real. Itu yang terjadi sekarang.

Jadi, Apakah Allah real?
Anda pasti akan berusaha menjawab "Ya, tentu saja". Tapi saya yakin anda menjawab itu karena doktrin agama yang sudah menahun dan turun-temurun dari leluhur anda. Bila saya tanya, "Buktikan bahwa Allah real". Jawaban apa yang anda persiapkan untuk saya?

Jangan salah paham. Allah adalah real untuk saya. Apakah Ia juga real untuk anda?

So what is real?
Is it your real? my real? Religions' real?

Is there a "true" real? what is it?


Allah is real. Real is Allah.

-------------------

Dalam kesempatan lain saya mengingat dan kemudian mencoba melirik kembali sebuah ajaran tua, Hinduism. menurut saya ajaran ini adalah yang paling misterius. Tidak ada yang tau asal usul serta kapan pertama kali ajaran ini diperkenalkan. Kosep "Reality" pada ajaran Hindu sebagian mirip dengan apa yang saya paparkan di atas. Hindu telah lebih dulu memikirkan dan mencoba menjawab definisi Realita, dan mereka memiliki jawabannya.

Di dalam ajaran Hindu, dikenal dengan "Brahma". Seorang yang mampu mencapai kondisi Brahma disebut Brahman (dalam bahasa Inggris). Brahma adalah suatu reality yang hakiki. Di alam semesta ini, manusia terbatasi oleh penciptaan dan penghancuran. Brahma tidak real bagi kita yang mengalami penciptaan dan penghancuran alam semesta. Sedangkan bila kita mencapai Brahma, maka Tuhan, Penciptaan dan Penghancuran tidaklah lagi relevan. Karena semua yang ada di alam ini sejak awal dan akhir adalah ilusi semata.

Pada kesempatan lain, Harus Yahya dalam bukunya "Atlas of Creation" menjelaskan definisnya mengenai reality. Ia mengatakan bahwa alam yang kita lihat ini adalah real sebatas indera kita mampu merasakannya. Sesungguhnya semua yang ada di alam ini adalah ilusi. Alam semesta bagaikan Hologram (Holographic Universe)

Dari sini sedikit terungkap apa yang sesungguhnya diajarkan oleh agama, ini adalah inti dari ajaran agama. Bukan hanya organized-religion degan perangkat aktivitasnya serta ritual-ritual rutinnya. Melainkan satu hal penting yang harus dipahami; bahwa tidak ada yang REAL selain DIA. DIA adalah satu-satunya yang REAL.

-------------------

“About Original Thinking”

“Most Old Souls  usually choose to follow the common ways of thinking — those used by the majority. This is the reason why problems tend to remain unsolved for a long time and their solutions are usually sluggish processes. It is easy for people to get used to things — even when it may be something totally inappropriate. As examples one could mention slavery, the great disparity among the rich and the poor, and the mistreatment of the female of the human species. At various moments in history many individuals have considered that these things are not appropriate, but they generally discard their thoughts because these thoughts go against what the majority considers to be correct or traditional — just the way things are. For this reason, the examples mentioned above still exist in this world in one form or another and our society has not been able to overcome them.



“Few among us are able to look at a problem that has existed ‘forever’ and decide to do something about it. It is easy to assume that if a situation has existed for generations, a solution would be impossible to find. However, I can assure for us, that the three problems mentioned could be corrected during this generation in a definitive way if only all of us, lets decided to make it happen. The great difficulties are not related to the implementation of the solutions. The hardest part is to move the minds of the majority from the old ideas into new ways of thinking. This means to abandon tradition to venture into unknown territory, and this is something most of the population in this world fear deeply. The most powerful tool to keep human beings under submission and in slavery is the fear of change.

“However, the Divine Spark within each and every one of us never ceases to inspire us to create new and original ideas and thoughts. This source of creative impulses never dries up — even when us suppress, censor or plainly ignore these impulses. Open our hearts and minds to receive this inspiration and dedicate some minutes of our time to examine it and to search for ways to express it, because expressing what arises from our soul is expressing God through our being.


“Do not let our originality be smashed under the weight of tradition and group-think. Take any problem we feel inspired to solve and find a way, without being concerned about how big and difficult the problem appears to be. Think about how many problems are related and how one problem may contain the solution for a different problem. One example is the epidemic of obesity that the richer nations in the world are experiencing while the peoples from other nations do not have enough to eat. Those who are eating more than what they really need would be healthier and happier if they gave away their surplus to those who have not enough to eat, solving two problems with one solution. Is this revolutionary? Is this the product of the mind of a genius? No, the only extraordinary and revolutionary thing would be that someone decided to do it.

Senin, 06 Juli 2015

This is the faith we need to cultivate

Trust that everything we need for our spiritual growth — whatever is needed to develop our  potential — we will receive. It is the will of GOD that what our  soul needs will always be provided to us.

“This is the faith we need to cultivate — a faith that tells us where we are now is perfect because it offers us  a chance to learn some important lesson. Our  life is not a product of chance. The opportunities we have taken advantage of and those we have ignored are what determine our  current situation. The opportunities sent by the GOD  can be identified with ease by consulting our  Inner Voice. Some opportunities sent by the material world could be ignored using the same approach.


“The Faith You Need to Cultivate.”

“When do we miss the opportunities? When our  base decisions on our lower impulses and our fears. When we refuse to learn something new. When we  tell our self that there is nothing new to learn; that there is nothing new that deserves our effort. We have to learn to trust more in our  own perception of truth, beauty and goodness to make better informed decisions.

“The Faith You Need to Cultivate.”

“When do we take advantage of the opportunities coming our  way? When we face every situation with the desire to give the best of our  being. When we  overcome our perceived limitations and the impulse to take the path of lowest resistance. When we  feel, we have given all we have and yet just by putting our mind in the right place and remembering our goal of being better we find that there is a lot more we can give. In other words, when we  live the way our  GOD wishes for us to live.

“The Faith You Need to Cultivate.”


“Consider our  life in constant balance between our  animal nature and our  nascent spiritual nature. We grow and progress every time we give priority to the spirit and try to become more spiritual. That which we desire in our mind will be the reality you manifest in the world. If our goal is to be the best we can be, the probabilities of acting in a more spiritual way increase and Our Father is able to be better expressed through our  being.”

We are the piece of cosmic puzzle

“Dear Friends, I am with you and I am excited that the quality of our connection is improving day by day. As we discard the fog of our spiritual misrepresentations and unrealistic projections, ( our spiritual journey ) the light can step in and help you move out of uncertainties and doubts. As you learn to find the Divine  light to let Him guide us  in your journey, you will no longer see the darkness but focus on the bright side, which will guarantee you safe footing in the most challenging trail conditions.



“Yes, dear Friends, the GOD is eternally omnipresent! He is filling each one of us with His Presence and wishes for us to share Him with others, so that His own being can expand forever and ever. As you co-create your own being and reality, the GOD  Himself never ceases to co-create Himself in His creation. The GOD does have a vested interest in each one of us. He is the Gardener and the Caretaker of each magnificent seed He has planted in us,  when He bestowed life upon us. Not only did He give you life ( our spiritual journey ) , but He also included many unique and special gifts in each one of His creation so that, by discovering and sharing them freely, they can enhance each other’s reality and create a magnificent puzzle — multifaceted and multi-dimensional.

“Keep working at our own piece( our spiritual journey )  , at adjusting it to fit into the whole. One day, you will be better equipped to look at Your  MasterPiece (Our Legacy )  which is thus being created, piece by piece.

“May this Life be filled with Love and Light.” Be Brave 

Minggu, 05 Juli 2015

“Passive and Dynamic Meditation” A Meditation Technique

 “Sometimes during sleep there occurs what may be called ‘passive Meditation Technique.’ Your mind remains on the sidelines and your Thought Adjuster (TA) can work directly at soul level. Many beneficial things may happen during your sleep, especially if the will to grow spiritually is already in you. When in your mind you have formulated the desire to progress in your spirit life, your soul acknowledges this desire and she will act according to your will, along with your TA. If each time you go to sleep you tell your TA that he or she is free to do anything for the benefit of both of you, your TA will not disappoint you. 


“There is another type of Meditation Technique that is practiced by those who sit in stillness, write and explore ideas in their journals, or generally strive to find the GOD within themselves. This type could be called dynamic meditation, since you would be asking questions and searching for answers within, attempting to hear ‘the voice’ of your GOD and follow His guidance by your own free will. This is a moment of communion with God because your attention is focused on your GOD and your intention is to hear and get closer to Him. 

“Mortals - OLD SOUL would get many benefits by taking advantage of all opportunities to cultivate a relationship with their GOD in heaven. If once a day is all you can do on a particular day, it will be OK. However, the times you spend in the presence of your GOD always produce some benefits, and help you in some way. The more time you spend with God the better you will get to know Him and the more you will become like Him. You don’t have to do just the bare minimum to grow spiritually, you can take advantage of all opportunities available to you. 

“The communion with the GOD can be maintenance with good meditation technique, is not a formal time to remember that God is there. At any moment during your day or night you can turn your gaze toward your GOD and share your time with Him — while you are walking or driving home, while your are eating, when you see something beautiful, or when you play with your children. Invite your GOD to become a part of your life and you will start living as if He was always with you, because it is so, even if many still have not consciously experienced this fact.”



What is God’s Will?


“In your early morning musings, the question about the will of God made its appearance on the screen of your mind. Many things, of which humans are barely conscious, happen daily, but the most important thought, which rarely appears on any of these minds on this planet is: ‘What is God’s will for me today?’ And therefore, also, very little deep thought is given to this further, most simple question: ‘What is entailed in the doing of God’s will?’ All mortals adhere to a belief system, albeit they may or may not be aware of their beliefs, as it is easier to let others do their thinking for them. The majority lives as if there is no tomorrow except when worry looms on the horizon, or when awakened from their slumber. 

Spirituality is how to understand GOD SPARK inside our body.

“Others awaken when they start reading books with spiritual content and hopefully take a small step to independent thinking. Their conversations take on a different hue, and perchance they look for a guru of some kind to help open the door of their minds. Hopefully a continually growing thirst to know more about spiritual matters will appear. They are those who will be encouraged by their Guardian Angels to have these human charges step out into the greater beyond, where insights arrive and liberated thinking takes over. 

“The further group of humans are already question marks from early childhood, as in their little minds they mull over what the meaning of life might be and who might be the Maker of heaven and earth. Those, who are not overly burdened by old superstitious beliefs, will retain their questioning natures to develop a personal relationship with God with the help from their Spark from God within. No child who makes its first conscious moral decision is left behind; all receive their guiding Fragment of God. 


Spirituality is how to understand GOD SPARK inside our body.
“However, not all start listening or question why things happen the way they do. It very much depends on parental guidance and the experiences of life that help shape a young person. When their budding will is sufficiently developed in a moral direction, the child begins to awaken more and starts wondering about the meaning of God’s will. This independence of thought is to be encouraged, as the child becomes increasingly more conscious of the mystery of the All That Is, and learns about God’s unconditional love and forgiveness. 

“Therefore, the next step in the thought process is the beginning hunger for a personal relationship with the Creator, and this heralds the search to find this Source of all life. 

“It is the grandest moment anyone can experience in this mortal estate to find a Spark of this Source living and working within themselves. It is like ‘a home-coming’ to finally experience and live that life.”
Spirituality is how to understand GOD SPARK inside our body.